Hari Sumpah Pemuda ke-98, Sri Untari Gugah Pemuda Jatim Berdaulat Lewat Koperasi Multi Pihak

​Surabaya, Bhirawa-Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi titik tolak strategis bagi generasi muda di Jawa Timur untuk bertransformasi dari sekadar pekerja lepas (freelancer) menjadi pemilik ekosistem usaha yang mandiri. Hal tersebut ditegaskan Ketua Dewan Penasihat Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.A.P., bertepatan dengan momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda, Rabu 28/10.

​Menyoroti tema nasional yang diusung Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tahun ini, yakni Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia, Sri Untari menilai pesan tersebut merupakan sarana otokritik sekaligus jalan keluar konkret bagi pengembangan potensi ekonomi pemuda di Jawa Timur. Meski wilayah Jawa Timur menyandang predikat sebagai lumbung pangan, komoditas kopi, maritim, hingga pusat industri kreatif, sebagian besar talenta mudanya masih berada pada lapisan bawah rantai pasok.

​”Petani muda kita di Jember, Banyuwangi, hingga Ngawi sangat produktif menghasilkan komoditas, namun nilai tambah ekonominya kerap diambil pihak luar. Barista muda di Malang dan Surabaya kerap menorehkan prestasi, tetapi kepemilikan usaha bukan di tangan mereka. Begitu pula konten kreator lokal yang mendulang jutaan penonton, platformnya tetap milik korporasi lain. Ini bukan karena pemuda kita tidak gigih, melainkan belum ada wadah kelembagaan yang mempertemukan mereka sebagai pemilik bersama,” tegas Sri Untari.

​Sebagai langkah terobosan, tokoh penggerak koperasi nasional tersebut menggugah kesadaran generasi muda untuk mengakselerasi pembentukan model Koperasi Multi Pihak (KMP) di berbagai sektor produktif di Jawa Timur. Model kelembagaan ini memungkinkan para produsen, tenaga kreatif, praktisi pemasaran digital, hingga pemodal muda berkedudukan setara dalam satu struktur kepemilikan usaha.

​”Koperasi Multi Pihak bukan koperasi konvensional. Di dalamnya petani, nelayan, barista, desainer, digital marketer, hingga investor muda duduk setara sebagai pemilik modal dan pengambil keputusan strategis. Mereka bukan lagi sekadar buruh atau mitra kerja yang rentan diputus kontrak sepihak. Model kolektif semacam ini telah terbukti berhasil di berbagai negara maju dalam menjaga ketahanan rantai pasok ekonomi kerakyatan,” jelas politisi senior tersebut.

​Sri Untari memaparkan, nilai patriotisme, kegigihan, dan empati di era modern harus diartikulasikan ke dalam kemandirian ekonomi. Patriotisme diwujudkan melalui penguasaan rantai pasok komoditas daerah oleh anak daerah sendiri, kegigihan dimaknai lewat keberanian merintis usaha kolektif yang berdaya tahan tinggi terhadap krisis, serta empati diterapkan untuk memastikan tidak ada kelompok usaha kecil yang ditinggalkan dalam perputaran ekonomi.

​Menyongsong satu abad Sumpah Pemuda pada 2028 mendatang, pihaknya mendorong jajaran Dekopinwil Jawa Timur bersama Dekopinda di 38 kabupaten/kota agar merealisasikan sedikitnya satu Koperasi Multi Pihak percontohan di setiap wilayah kultural, meliputi kawasan Arek, Tapal Kuda, Mataraman, Pantura, dan Madura.

​”Dewan Penasihat Dekopinwil Jatim membuka pintu lebar bagi seratus anak muda pionir pertama di Jawa Timur yang siap ditempa menjadi perintis koperasi modern, bukan sekadar pencari kerja. Mari kita bersumpah kembali, bukan hanya untuk bersatu secara kebangsaan, melainkan juga berdaulat dan berdaya bersama secara ekonomi,” pungkasnya.mut

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *