Heboh Hantavirus Disebut COVID-19 Baru, Pakar Kedokteran UM Ungkap Fakta dan Gejalanya

dr. Dina Fauziah, M.Sc, Sp.PK

Kota Malang, Bhirawa

Kemunculan kabar dugaan penularan hantavirus antarmanusia di sebuah kapal pesiar baru-baru ini menyita perhatian publik. Banyak spekulasi liar di media sosial yang mengaitkan fenomena ini sebagai awal mula pandemi baru menyerupai COVID-19. Menanggapi keresahan tersebut, pakar kesehatan meminta masyarakat tetap tenang karena hantavirus memiliki sifat penyebaran yang sangat berbeda.

​Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (UM), dr. Dina Fauziah, M.Sc, Sp.PK menegaskan bahwa hantavirus bukanlah penyakit menular lewat udara bebas antarmanusia seperti coronavirus. Virus RNA ini masuk dalam kategori zoonosis, yakni penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia.

​”Reservoir atau pembawa utama virus ini adalah tikus. Tikusnya sendiri tidak menunjukkan gejala sakit. Penularan ke manusia terjadi jika kita menghirup partikel aerosol dari urin, kotoran, atau air liur tikus yang sudah mengering,” jelas dr. Dina.

​Lebih lanjut, ia membeberkan bahwa risiko infeksi terbesar berasal dari lingkungan kotor yang menjadi sarang tikus, bukan dari interaksi tatap muka sehari-hari dengan manusia lain. Berdasarkan literatur medis, sebagian besar kasus hantavirus di dunia murni karena paparan langsung dari hewan pengerat.

​Meskipun ada temuan Andes virus di Amerika Selatan yang bisa menular melalui kontak erat antarmanusia, dr. Dina menyebut itu adalah fenomena pengecualian yang sangat terbatas. “Masyarakat Indonesia tidak perlu terburu-buru panik. Varian yang jamak ditemukan pada tikus di Indonesia adalah Seoul virus, bukan Andes virus. Jadi risiko penyebarannya sangat kecil,” paparnya.

​Waspadai Gejala Mirip DBD

​Meski risiko penularan antarmanusia rendah, masyarakat dituntut tetap waspada. Gejala awal hantavirus kerap mengecoh karena sangat mirip dengan Demam Berdarah Dengue (DBD). Pasien biasanya mengeluhkan demam tinggi, nyeri otot, lemas, hingga sakit kepala hebat. Jika dibiarkan, infeksi dapat menyerang fungsi ginjal dan paru-paru.

​Karena kemiripan gejala klinis ini, diagnosis pasti memerlukan pemeriksaan laboratorium. Selain itu, hingga detik ini belum ada vaksin atau obat antivirus khusus untuk mematikan hantavirus, sehingga penanganan medis berfokus pada terapi suportif.

​Oleh karena itu, dr. Dina menegaskan bahwa senjata utama melawan hantavirus adalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Karena hantavirus merupakan jenis virus berselubung (enveloped virus), strukturnya sangat mudah hancur hanya dengan sabun.

​”Kuncinya adalah mengendalikan populasi tikus di rumah. Simpan makanan dengan baik dan kelola sampah dengan benar. Jika harus membersihkan area yang diduga banyak kotoran tikus, wajib gunakan masker, sarung tangan, dan segera cuci tangan pakai sabun,” tegasnya.

​Edukasi mengenai pencegahan hantavirus ini menjadi bagian dari komitmen Universitas Negeri Malang (UM) dalam menerapkan pendekatan One Health—yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Langkah strategis UM ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3, yakni mewujudkan Kehidupan Sehat dan Sejahtera bagi masyarakat, serta menangkal misinformasi di tengah gempuran arus digital.mut”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *