Kota Malang, Bhirawa-Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB) mempercepat transformasi pendidikan tinggi dengan merombak kurikulum Program Studi Sarjana Teknik Biosistem. Penyempurnaan arah kurikulum baru ini dirumuskan lewat diskusi pengembangan Akademik dan Kurikulum yang melibatkan unsur pentahelix secara daring melalui Zoom Cloud Meeting, Rabu 21/10.
Langkah strategis tersebut diambil guna merespons dinamika sektor pangan nasional dan akselerasi modernisasi pertanian 4.0. Kurikulum mendatang tidak lagi sekadar menumpuk mata kuliah terpisah, melainkan dirancang menjadi ekosistem kompetensi berbasis lima pilar utama.
Ketua Departemen Teknik Biosistem FTAB UB, Dr. Eng. Akhmad Adi Sulianto, STP., MT., M.Eng., memaparkan kelima fondasi tersebut mencakup Engineering Fundamentals, Agricultural & Biosystems Engineering, Smart & Precision Agriculture, Engineering Design & Innovation, serta Sustainability & Entrepreneurship.
”Seluruh masukan yang terhimpun dari akademisi, pemerintah, hingga pelaku usaha menjadi pijakan utama dalam penyempurnaan dokumen kurikulum. Kami ingin melahirkan insinyur yang tidak hanya tangguh secara teori, melainkan siap memberi solusi atas problem riil seperti ketahanan pangan dan perubahan iklim,” ujar Akhmad Adi Sulianto.
Diskusi ini menghadirkan lima pakar lintas sektor. Dari ranah akademisi, Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus tokoh PERTETA, Prof. Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Eng., menekankan pentingnya mempertahankan fundamental teknik di samping mengejar standar akreditasi internasional seperti IABEE, sehingga lulusan memiliki daya adaptasi belajar jangka panjang.
Isu krusial rantai pasok disorot oleh Direktur Pengadaan Perum BULOG, Dr. Ir. Prihasto Setyanto, M.Sc. Ia menilai kelemahan penanganan pascapanen di tanah air membutuhkan lulusan yang cakap dalam manajemen logistik modern, teknik penyimpanan terintegrasi, dan pemantauan mutu demi menekan angka susut panen (food loss).
Hal serupa disampaikan Dr. Ir. Agung Prabowo, M.Eng. dari Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pascapanen Pertanian Kementerian Pertanian, menggarisbawahi urgensi rekayasa mesin pascapanen yang hemat energi, presisi, serta aplikatif bagi industri kecil menengah (IKM).
Kebutuhan sektor industri benih modern turut diungkapkan Presiden Direktur PT Shriram Seed Indonesia, Ir. Suwarno, M.M. Menurutnya, industri kini bergerak cepat menuju pertanian berbasis data. Lulusan dituntut mahir mengoperasikan wahana tanpa awak (drone), menganalisis data spasial tanah dan iklim, hingga menerapkan pola smart farming.
Sementara itu, Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Ditjen Perkebunan Kementan, Dr. Abdul Roni Angkat, S.TP., M.Si., mengingatkan perlunya keahlian mekanisasi di lahan miring serta hilirisasi komoditas perkebunan strategis seperti tebu, kopi, dan kelapa sawit dengan konsep pertanian regeneratif.
Transformasi kurikulum ini sekaligus diarahkan untuk mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), utamanya pengentasan kelaparan (SDG 2), pendidikan berkualitas (SDG 4), pertumbuhan industri dan inovasi (SDG 9), serta aksi adaptasi iklim (SDG 13). Lewat bekal technopreneurship, para sarjana Teknik Biosistem UB diproyeksikan tampil sebagai pencipta kerja (agrosociopreneur) yang mampu mendongkrak nilai tambah komoditas di tingkat perdesaan. mut.






