Tekan Penurunan Fisik Lansia, Dosen Fisioterapi UMM Hadirkan Aplikasi ‘PANTAS’ dan Senam Simbah Lentur)

Kota Malang, Bhirawa-Persoalan penurunan fungsi fisik pada lanjut usia (lansia)—seperti berkurangnya massa otot hingga gangguan keseimbangan—kerap luput dari perhatian awal. Berangkat dari kondisi tersebut, Dosen Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Nungki Marlian Yuliadarwati, SSt.Ft., M.Kes., berinovasi mengembangkan instrumen skrining digital bertajuk PANTAS (Pemantauan Lansia Aktif, Sehat, dan Mandiri).

​Inovasi yang prototipenya mulai diperkenalkan di lingkungan kampus UMM ini ditujukan untuk mempermudah pemantauan kesehatan lansia secara terstruktur, cepat, dan mandiri tanpa harus selalu bertatap muka langsung dengan tenaga profesional di tahap awal.

​Nungki mengungkapkan, ide pengembangan PANTAS bermula dari pengalamannya di ranah fisioterapi geriatri. Selama ini, sebagian besar pasien lansia baru datang berkonsultasi saat sudah merasakan keluhan akut, seperti nyeri sendi lutut, nyeri bahu, atau kesulitan berdiri.

​”Lansia terkadang belum menyadari bahwa mereka sesungguhnya memiliki persoalan kesehatan fisik yang lebih mendasar. Umumnya mereka hanya mengeluhkan rasa nyeri, padahal di balik keluhan itu sering tersimpan masalah penurunan massa otot dan gangguan keseimbangan yang meningkatkan risiko jatuh,” ujar Nungki di Malang.

​Aplikasi PANTAS dirancang ramah pengguna (user friendly). Sistem ini dapat dioperasikan tidak hanya oleh fisioterapis atau tenaga medis, melainkan juga oleh mahasiswa, kader posyandu lansia, hingga pendamping (caregiver).

​Instrumen digital ini mengevaluasi berbagai parameter vital, mulai dari kemampuan motorik, stabilitas postur, risiko jatuh, fungsi kognitif, pola tidur, hingga intensitas aktivitas harian seperti berkebun dan berjalan kaki.

​”Mekanismenya sangat praktis. Pengguna cukup menginput data dan menjawab instrumen asesmen sesuai kondisi riil lansia. Sistem secara otomatis menganalisis data, memetakan risiko kesehatan, serta langsung menyodorkan rekomendasi latihan fisik yang terukur,” paparnya.

​Menariknya, PANTAS turut mengintegrasikan modul latihan khusus bernama Simbah Lentur (Senam Imbang, Sinambi Lenggah, Agawi Angler, Benahi Postur). Program latihan ini menggabungkan penguatan otot inti, latihan pernapasan dalam, serta koreksi postur tubuh yang aman diterapkan bagi lansia dengan risiko mobilitas rendah.

​Namun, jika hasil evaluasi digital mendeteksi indikasi medis berisiko tinggi, sistem akan mengarahkan pengguna untuk segera berkonsultasi langsung dengan fisioterapis guna mendapatkan tindakan klinis lebih lanjut.

​Nungki berharap, digitalisasi instrumen yang menggantikan format kuesioner kertas konvensional ini mampu memperluas jangkauan deteksi dini di tingkat komunitas dan posyandu.

​”Muara dari pemantauan berkala ini bukan sekadar pencatatan angka medis, melainkan menjaga kemandirian serta meningkatkan kualitas hidup para lansia agar tetap bugar dan produktif,” pungkasnya.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *