Jakarta, Bhirawa– Rencana sistem pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang, memicu sorotan tajam dari internal organisasi. Kaukus Intelektual Nahdlatul Ulama (NU) mengingatkan pentingnya menjaga legitimasi kepemimpinan serta independensi penyelenggara dalam perhelatan tertinggi warga nahdliyin tersebut.
Ketua Umum Kaukus Intelektual NU, Abd. Aziz, menegaskan bahwa Muktamirin sebagai utusan sah dari Pengurus Wilayah (PWNU) dan Pengurus Cabang (PCNU) harus memiliki kedaulatan penuh dalam menentukan arah kepemimpinan PBNU lima tahun ke depan.
Ia menyoroti berkembangnya skenario pembatasan hak suara Muktamirin melalui mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Menurutnya, membatasi Muktamirin untuk mengusulkan maupun memilih calon Ketua Umum berpotensi menggerus legitimasi moral kepemimpinan yang dihasilkan.
“Pemimpin yang legitimate secara aturan belum tentu memiliki legitimasi yang kuat dari warga nahdliyin jika prosesnya tidak memberikan ruang kepercayaan. Maksud dan tujuan percepatan Muktamar untuk memutus rantai perdebatan tidak akan tercapai jika hak bicara dan hak suara Muktamirin dikebiri,” ujar Abd. Aziz dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (26/8).
Ia juga menepis anggapan bahwa sistem penunjukan langsung melalui AHWA sepenuhnya bebas dari potensi politik uang (risywah). Aziz mendorong agar Muktamar Tambakberas yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 tersebut mengembalikan sistem pemilihan yang demokratis dan bermartabat, yakni dari, oleh, dan untuk warga NU.
Baca Jug:Pencalonan Prof Nasaruddin Umar di Muktamar Ke-35 NU Disebut Tak Terganjal AD/ART
Selain masalah hak suara, Kaukus Intelektual NU mengingatkan kepanitiaan Muktamar agar tetap berada pada posisi netral dan imparsial. Penyelenggara diminta tidak merangkap peran sebagai pemain yang mengarahkan dukungan kepada figur tertentu.
“Penyelenggara Muktamar harus menjaga independensi. Sangat disayangkan jika ada upaya mengondisikan atau ‘mewukufkan’ peserta di tempat tertentu demi mengarahkan pilihan. Wasit tidak boleh merangkap menjadi pemain,” tegasnya.
Melalui perhelatan di Tambakberas ini, Kaukus Intelektual NU berharap proses kontestasi dapat berjalan bersih dari praktik politik uang serta mencerminkan nilai-nilai perjuangan para pendiri NU, demi melahirkan kepemimpinan yang mampu memperkuat moderasi beragama dan membawa jam’iyah bergerak progresif di era modern.mut












