Malang, Bhirawa- Peluang mahasiswa Indonesia untuk menimba ilmu di benua Eropa semakin terbuka lebar. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan posisinya sebagai perguruan tinggi dengan kepemilikan mitra mobilitas program Erasmus terbanyak di Tanah Air.
Komitmen pembukaan akses global tersebut dikupas tuntas dalam agenda UMMTalks. Kampus Putih ini tidak hanya aktif menerbangkan mahasiswa ke berbagai universitas ternama dunia, melainkan juga memboyong akademisi dan mahasiswa asing ke Malang guna membentuk ekosistem belajar berdaya saing internasional.
Kepala International Relations Office (IRO) UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP., menuturkan bahwa IRO bertindak sebagai gerbang utama mobilitas sivitas akademika ke kancah global. Salah satu program unggulan yang konsisten berjalan adalah konsorsium mobilitas Erasmus yang didanai langsung oleh Uni Eropa.
”Universitas di Indonesia yang memiliki mitra Erasmus dan rutin mengirim mahasiswa setiap tahun itu tidak banyak. Untuk program mobilitas ini, UMM tercatat sebagai yang terbanyak di Indonesia,” papar Listiari.
Pada semester mendatang, UMM kembali membuka pendaftaran pengiriman mahasiswa ke sejumlah perguruan tinggi mitra di Italia dan Spanyol. Listiari mengingatkan agar mahasiswa menyiapkan sejumlah syarat kunci sejak dini, seperti kecakapan bahasa asing, kestabilan IPK, hingga kepemilikan paspor aktif. Dokumen perjalanan ini ditekankan penting dimiliki mahasiswa baru karena seleksi beasiswa luar negeri kerap memiliki batas waktu pendaftaran yang ketat.
”Kesempatan besar selalu datang menghampiri orang-orang yang siap. Siapkan diri mulai dari kemampuan komunikasi, bahasa Inggris, hingga dokumen paspor agar sewaktu-waktu bisa langsung mendaftar,” lanjutnya.
Internasionalisasi dari Dalam Kampus
Bagi mahasiswa yang belum berkesempatan terbang ke mancanegara, UMM menghadirkan atmosfer global langsung di ruang kelas. Sekretaris IRO UMM, Tonny Dian Effendi, M.Si., M.Soc.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa kehadiran puluhan mahasiswa dan akademisi asing di UMM dirancang untuk melatih kemampuan adaptasi lintas budaya serta memperluas cara pandang dunia mahasiswa lokal.
”Hal yang paling utama adalah membangun cara pandang global. Berinteraksi dengan komunitas dari berbagai negara di lingkungan kampus akan membentuk visi dan kesiapan mahasiswa bersaing di level internasional,” ungkap Tonny.
Proses integrasi dan adaptasi mahasiswa mancanegara tersebut ditangani secara intensif oleh divisi Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) UMM. Kepala BIPA UMM, Riski Lestiona, S.Pd., M.A., Ph.D., menerangkan bahwa lembaganya mendidik pembelajar asing mengenal bahasa dan budaya Nusantara lewat praktik lapangan, jelajah sejarah, hingga seni tradisi.
Ruang temu budaya ini sekaligus menjadi sarana latihan komunikasi langsung bagi mahasiswa UMM sebelum mereka benar-benar berangkat studi ke luar negeri. UMM diposisikan sebagai miniatur dunia tempat mahasiswa mengasah rasa percaya diri dalam pergaulan global.mut








