Musim Hujan Mundur, Akademisi UMM Imbau Petani Cabai Terapkan Irigasi Drip dan Opsi Tunda Tanam

Malang, Bhirawa — Tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memprediksi kemarau lebih panjang, kondisi ini membayangi ancaman gagal panen para petani cabai. Menyikapi keterbatasan pasokan air dan mundurnya awal musim penghujan, akademisi menyarankan langkah mitigasi teknis berupa penerapan sistem irigasi tetes (drip) serta penyesuaian jadwal tanam.

​Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memproyeksikan musim hujan tahun ini bergeser lebih lambat, dengan puncak musim basah diperkirakan baru merata antara Desember 2026 hingga Februari 2027. Situasi ini langsung berdampak pada sektor hortikultura yang rentan terhadap stres air, terutama komoditas cabai.

​Dosen Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menegaskan bahwa penggunaan metode irigasi drip menjadi solusi rasional untuk menjaga kelangsungan tanaman yang sudah terlanjur berada di lahan.

​“Karakteristik tanaman cabai tidak tahan air berlebih, namun jika kekurangan air juga akan layu dan mati. Irigasi drip memungkinkan pemberian air dan nutrisi langsung ke zona perakaran secara presisi dan efisien,” terang Ary.

​Pria yang juga aktif membudidayakan cabai di Banyuwangi ini memaparkan, instalasi awal irigasi drip membutuhkan biaya investasi sekitar Rp3,5 juta hingga Rp4 juta untuk pengadaan pipa dan selang pembagi. Selain irigasi tetes, petani disarankan memperkuat infrastruktur mandiri lewat sumur bor dan pompa air agar tidak bergantung penuh pada saluran irigasi sawah konvensional.

​”Jika tanaman sudah berdiri di lahan, drip irigasi menjaga stabilitas pasokan nutrisi. Perawatan rutin minimal dua hari sekali tetap berjalan, mencakup penyemprotan perangsang bunga, nutrisi daun, hingga insektisida pencegah hama,” imbuhnya.

​Kelangkaan pasokan air turut mendongkrak pergerakan harga komoditas pedas ini di pasar. Per 23 September, harga cabai rawit varietas ori di tingkat petani menyentuh Rp58 ribu per kilogram, sementara cabai merah besar berada di angka Rp16 ribu per kilogram. Di tingkat konsumen akhir, disparitas rantai distribusi mengerek harga cabai rawit ke kisaran Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram.

​Bagi petani yang belum memasuki fase tanam, Ary menyarankan opsi tunda tanam (wait and see) hingga curah hujan mulai stabil, yang diperkirakan terjadi pada pertengahan November mendatang.

​”Memaksakan tanam di tengah cuaca panas ekstrem tanpa cadangan air yang terjamin justru berisiko tinggi terhadap gagal semai. Lebih baik waktu jeda ini dimanfaatkan untuk mematangkan sumur alternatif dan jalur instalasi irigasi, sehingga saat musim hujan tiba, lahan sudah siap berproduksi optimal,” tutupnya.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *