Magang di FSTeM Mahasiswa FH Aachen Jerman Lakukan Penelitian Teh Ungu

Terkesan Keramahan Kampus dan Bakso Malang

Tanercan Taner menyampaikan hasil penelitianya

Kota Malang, Bhirawa

Departemen Biologi, Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM), Universitas Brawijaya (UB) kembali memperkuat jejaring akademik internasionalnya. Kali ini, penguatan internasionalisasi tersebut diwujudkan nyata lewat program Inbound Student yang mendatangkan mahasiswa asing untuk riset bersama.

​Selama periode Maret hingga Juni 2026, Tanercan Taner, mahasiswa dari FH Aachen University of Applied Sciences, Jerman, sukses melaksanakan magang penelitian di laboratorium Departemen Biologi UB. Di bawah bimbingan langsung Ketua Departemen Biologi UB, Yoga Dwi Jatmiko, Ph.D., Taner meneliti potensi besar di balik fermentasi teh daun hijau dan teh daun ungu.

​Riset yang diangkat oleh Taner bertajuk “Biotransformation of Bioactive Compounds from Green and Purple Tea Leaf through Fermentation by Lacticaseibacillus paracasei D4.” Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan bakteri probiotik untuk mendongkrak nilai fungsional produk teh.

​Bagi Taner, meneliti teh memberikan antusiasme tersendiri karena komoditas ini merupakan minuman favoritnya dan keluarga. Terlebih, objek yang diteliti adalah teh ungu—varietas unik dengan kandungan pigmen antosianin tinggi yang masih belum populer di Indonesia.

​Langkah ilmiah ini didukung penuh oleh PT Riset Perkebunan Nusantara, Pusat Penelitian Teh dan Kina Indonesia selaku penyedia bahan baku. Hasil riset membuktikan bahwa proses fermentasi berhasil menaikkan total kandungan senyawa fenolik serta melahirkan senyawa bioaktif baru lewat proses biotransformasi.

​Selama magang, mahasiswa asal Jerman ini terjun langsung dalam pembuatan fermentasi teh, uji fitokimia, analisis aktivitas antioksidan, hingga skrining senyawa aktif. Hal ini dinilainya sangat mendongkrak kepercayaan diri dan wawasannya di sektor bioteknologi pangan.

​Menariknya, pengalaman Taner di Kota Malang tidak melulu soal mikroskop dan tabung reaksi. Mahasiswa bule ini mengaku sangat menyukai kuliner khas lokal, yakni Bakso Malang. Interaksi kultural ini membuatnya semakin akrab dengan budaya Indonesia dan kerja tim di laboratorium.

​”Selama menjalani Praxissemester di Universitas Brawijaya, saya merasakan lingkungan yang sangat hangat dan bersahabat, bahkan melampaui ekspektasi saya. Sejak hari pertama, Pak Yoga Dwi Jatmiko dan tim laboratorium selalu membantu saya, baik untuk urusan riset maupun adaptasi hidup di Malang. Kampusnya hijau, nyaman, dan masyarakatnya sangat ramah,” tutur Taner penuh kesan.

 

​Ketua Departemen Biologi UB sekaligus Ketua Tim Peneliti, Yoga Dwi Jatmiko, Ph.D., menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa asing lewat program inbound menjadi pilar penting internasionalisasi departemennya.

​”Kolaborasi internasional memberikan manfaat timbal balik. Mahasiswa asing mendapat pengalaman riset baru, sementara UB dapat memperluas jejaring global, mengerek kualitas publikasi ilmiah, dan membuka peluang kerja sama jangka panjang dengan mitra luar negeri,” terang Yoga.

​Selain mempertajam taji UB di kancah riset global, program ini juga berkontribusi nyata pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Di antaranya meliputi:

• ​SDG 4 (Pendidikan Berkualitas): Menyelenggarakan pendidikan tinggi inklusif berorientasi global.

• ​SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): Riset pangan fungsional penunjang kesehatan publik.

• ​SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur): Inovasi bioteknologi berbasis fermentasi.

• ​SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan): Penguatan hubungan bilateral UB dan FH Aachen Jerman.

​Lewat kesuksesan program ini, FSTeM Universitas Brawijaya terus membuktikan komitmennya menjadi episentrum pendidikan dan riset yang berdaya saing global sekaligus bermanfaat bagi masyarakat luas.mut

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *