Atasi Bau Sampah, Mahasiswa FTAB UB Sukses Terapkan Inovasi ‘Ember POC’ Hemat Biaya 

Muhammad Nashirulloh Aryanto,bersama warga Mojolangu

Kota Malang, Bhirawa

Persoalan sampah organik rumah tangga yang kerap memicu bau tidak sedap dan penumpukan volume sampah di tempat pembuangan, memantik kepedulian insan akademis. Lewat program pengabdian masyarakat, Muhammad Nashirulloh Aryanto, mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan angkatan 2024, Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB), berhasil menghadirkan solusi konkret yang murah dan aplikatif.

​Pria yang akrab disapa Irul ini menciptakan sebuah alat inovasi yang dinamai “Ember POC” (Pupuk Organik Cair). Inovasi berskala rumah tangga ini resmi dipraktikkan dan diimplementasikan di lingkungan RW 02 RT 01, Kelurahan Mojolangu, Kota Malang, pada 30 Juni 2026 lalu.

​Menurut Irul, ide ini bermula dari keprihatinannya melihat kebiasaan warga setempat, khususnya ibu-ibu rumah tangga, yang masih membuang sampah organik langsung ke keranjang sampah umum tanpa ada proses pemilahan maupun pemanfaatan kembali.

​”Kondisi tersebut jelas memicu penumpukan sampah organik dan bau menyengat. Padahal, jika dikelola dengan benar, sampah sisa dapur itu memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pupuk cair bernilai guna tinggi,” ujar Irul.

​Menariknya, prototipe Ember POC ini dirancang dengan anggaran yang sangat minim, yakni di bawah Rp190.000. Komponen pembuatannya pun memanfaatkan bahan-bahan lokal yang mudah ditemukan di pasaran.

​Sistem kerja Ember POC mengandalkan wadah fermentasi sederhana. Bahan dasarnya berupa dedaunan dan sisa sayuran, yang kemudian dicampur dengan Effective Microorganisms (EM4) sebagai inokulan mikroba. Proses fermentasi ini dipercepat menggunakan molase (tetes tebu) sebagai sumber gula, serta sekam bakar yang berfungsi membantu sirkulasi udara sekaligus menyerap aroma tak sedap.

​Proses pengolahannya pun terbilang sangat praktis untuk ukuran domestik. Bahan organik cukup dimasukkan ke dalam ember, disiram larutan EM4 dan molase, lalu ditutup rapat untuk proses fermentasi. Hasil akhirnya berupa pupuk organik cair berkualitas yang siap menyuburkan tanaman pekarangan, bahkan memiliki nilai ekonomis untuk dijual kembali.

​Dalam pelaksanaannya di lapangan, Irul tidak sekadar memberikan ceramah teori satu arah. Ia menggandeng langsung ibu-ibu anggota PKK RW 02 RT 01 Kelurahan Mojolangu dalam sebuah praktik lapangan interaktif.

​”Kami melakukan demonstrasi pembuatan, sesi tanya jawab, hingga praktik berulang oleh ibu-ibu secara kolaboratif. Dengan pendekatan partisipatif ini, kami berharap pengetahuan pengelolaan sampah ini benar-benar melekat dan keberlanjutan programnya di masyarakat jauh lebih besar,” tambahnya.

​Proyek inovatif mahasiswa FTAB UB ini juga linear dengan pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan pemerintah. Setidaknya ada tiga poin utama SDGs yang disasar, meliputi SDG 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan) melalui penciptaan lingkungan bersih, SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) lewat tata kelola sampah komunitas, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui reduksi limbah organik.

​Melihat keberhasilan dan efisiensi biaya yang ditunjukkan dalam proyek ini, inovasi Ember POC dinilai sangat potensial untuk direplikasi di skala RW atau RT lain. Gerakan kecil berbasis komunitas dari Kelurahan Mojolangu ini diharapkan mampu memicu inisiatif serupa di berbagai sudut Kota Malang demi terwujudnya ketahanan lingkungan yang berkelanjutan. mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *