Mahasiswa Asing UMM Siap Jadi Duta Bahasa Indonesia di Kancah Global

Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing  di Universitas Muhammadiyah Malang dari berbagai negara sudah dinyatakan selesai mereka kini siap terjun langsung memulai program masing-masing

Kota Malang, Bhirawa

Puluhan mahasiswa internasional dari berbagai belahan dunia resmi menyelesaikan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Keberhasilan ini ditandai dengan digelarnya Closing Ceremony di Aula GKB IV Kampus Putih UMM pada Kamis (9/7) kemarin.

​Para mahasiswa asing tersebut merupakan penerima beasiswa The International Asia Scholarship (TIAS), Kemitraan Negara Berkembang (KNB), dan SUMMIT UMM. Kelulusan ini menjadi modal penting sebelum mereka terjun langsung memulai studi di program studi (prodi) masing-masing.

​Kepala UPT BIPA UMM, Riski Lestiono, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa kelulusan dari Program BIPA ini bukanlah batas akhir dari proses belajar, melainkan fondasi utama untuk mengikuti perkuliahan reguler. Penguasaan bahasa dan pemahaman budaya lokal yang telah dikuasai dinilai akan menjadi alat bantu adaptasi yang vital di lingkungan kampus.

​”Selama satu tahun ini, Anda tidak hanya belajar bahasa Indonesia, tetapi juga memasuki budaya lokal. Ketika kembali ke negara asal, ini bukan akhir perjalanan belajar Anda. Justru ini adalah permulaan untuk menjadi duta bahasa Indonesia dan duta Indonesia di negara masing-masing,” ujar Riski, Jumat (10/7).

​Ia juga berpesan agar para mahasiswa asing tersebut nantinya dapat menceritakan tentang keramahan dan budaya Indonesia kepada masyarakat di negara asal mereka, serta terus mengembangkan kemampuan bahasa Indonesia yang telah diperoleh di UMM.

​Selama satu tahun penuh, para mahasiswa asing ini tidak hanya digembleng terkait tata bahasa dan komunikasi, tetapi juga diajak menyelami kebiasaan serta nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia. Hasil dari inkubasi budaya tersebut tercermin kuat dalam acara penutupan yang berlangsung hangat. Para mahasiswa secara apik menampilkan pertunjukan alat musik tradisional angklung, pembacaan puisi, hingga penyampaian kesan pesan menggunakan bahasa Indonesia yang fasih.

​Dampak positif dan mendalam dari program ini dirasakan secara langsung oleh para peserta. Salah satunya adalah Hamdan Cheloh, mahasiswa asal Thailand. Ia menuturkan bahwa BIPA memberikannya pengalaman belajar berharga yang melampaui sekadar penguasaan kosakata dan keterampilan menulis.

​”Saya sangat bersyukur dan senang bisa mengikuti Program BIPA di UMM selama satu tahun. Saya belajar bukan hanya tentang bahasa Indonesia, tetapi juga memahami budaya Indonesia, toleransi, dan bagaimana bekerja sama dengan banyak orang,” ungkap Hamdan.

​Ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pengajar BIPA yang selalu sabar membimbing. Hamdan mengaku bangga melihat teman-teman internasionalnya kini sudah dapat berbicara bahasa Indonesia dengan lancar dalam kehidupan sehari-hari.

​Keberhasilan penyelenggaraan Program BIPA ini menjadi bukti konkret komitmen UMM dalam memberikan pengalaman pendidikan inklusif bertaraf internasional. Kampus Putih membuktikan diri tidak sekadar sebagai tempat untuk menimba ilmu secara akademis, tetapi juga menjadi wadah yang membentuk kesiapan sosial dan budaya bagi setiap pelajarnya agar mampu menjadi jembatan diplomasi budaya di kancah global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *