Malang, Bhirawa–Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Program Studi Ilmu Komunikasi (Ilkom) Fahmi Daud Ibrahim, sukses mengukir prestasi di tingkat Asia Tenggara melalui inovasi pendidikan inklusif bagi wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Gagasan bertajuk Smart Inclusive Learning (SIL) yang diusungnya berhasil menyita perhatian dewan penguji internasional dalam ajang Semangat Muda Indonesia (SMI) Youth Exchange yang berlangsung di Singapura, Malaysia, dan Thailand pada 13–18 Juli 2026 lalu.
Inovasi tersebut berfokus pada pemerataan pendidikan berkelanjutan yang mendukung poin keempat Sustainable Development Goals (SDGs). Model pembelajaran SIL dirancang khusus agar mudah diaplikasikan di kawasan 3T dengan mengoptimalkan lingkungan dan kekayaan alam sekitar sebagai media peraga utama.
Fahmi memadukan pendekatan Concrete-Pictorial-Abstract (CPA) dan Contextual Teaching and Learning (CTL). Melalui metode ini, para pengajar diajak memanfaatkan benda-benda konkret di alam pedesaan untuk membantu siswa memahami materi secara langsung. Selain itu, kurikulum ini juga dirancang ramah bagi penyandang disabilitas.
Baca Juga:UMM Menerima Penghargaan BI sebagai Kampus Pendukung Ekosistem Halal
”Modul ini kami susun agar pendidikan berkualitas tidak eksklusif milik mereka yang memiliki fasilitas mewah atau internet cepat. Melalui pendekatan CPA dan CTL, bahan ajar bisa disesuaikan dengan kearifan lokal,” ujar mahasiswa asal Kabupaten Tulungagung tersebut, Rabu (5/8/2026).
Menurut Fahmi, metode ini memungkinkan guru, pemuda desa, hingga orang tua di wilayah 3T untuk langsung mempraktikkan proses belajar mengajar secara interaktif menggunakan sarana seadanya di lingkungan mereka.
Kematangan konsep serta dampak sosial dari proyek SIL ini menghantarkan Fahmi memborong dua penghargaan sekaligus, yakni kategori Best Leader dan Best Team.
Di balik raihan tersebut, Fahmi mengaku capaian ini tidak lepas dari proses evaluasi atas kegagalan yang pernah ia alami sebelumnya, serta pola kepemimpinan yang mengedepankan kolaborasi tim.
”Fokus utama saya saat dipercaya menjadi ketua bukan untuk mendominasi, melainkan mendengarkan aspirasi dan membagi peran sesuai keahlian tiap anggota. Kolaborasi itulah yang membuahkan hasil,” jelasnya.
Prestasi ini diharapkan dapat menjadi pemantik motivasi bagi para pemuda dan sivitas akademika UMM untuk berani berkarya serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.
”Mulai saja dulu dan coba berbagai hal. Jangan pernah minder atau membatasi kapasitas diri sendiri. Manfaatkan setiap peluang yang ada, karena kegagalan terbesar adalah ketika kita tidak berani mencoba sama sekali,”pungkasnya.mut












