Pasuruan, Bhirawa-Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, menjadi desa ketiga yang menjalani penilaian lapangan dalam ajang Lomba Kampung Pancasila tingkat Kabupaten Pasuruan, Kamis 10/9.
Terletak di wilayah paling timur Kecamatan Tutur dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Tosari, desa di kawasan lereng Bromo ini menyuguhkan kekayaan tradisi masyarakat Tengger sekaligus memamerkan praktik nyata kerukunan antarumat beragama yang telah mengakar kuat lebih dari setengah abad.
Kedatangan tim penilai yang dipimpin Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Pasuruan Nurul Huda, Ketua FPK Gus Ahmad Bayhaqi Kadmi, serta perwakilan TNI/Polri disambut hangat dengan alunan musik kesenian Selompret khas Tengger dari para siswa SDN 1 Ngadirejo.
Baca Juga :Desa Penunggul Masuk Penilaian Kampung Pancasila Pasuruan, Pemuda Unjuk Karya Video Sinematik
Kepala Desa Ngadirejo, Mulyono, mengaku bangga desanya bisa mewakili Kecamatan Tutur dalam ajang bergengsi ini. Ia menegaskan, keberagaman pemeluk agama—mulai dari Islam, Hindu, hingga Kristen—justru menjadi fondasi utama kekuatan sosial di desanya.
”Alhamdulillah, dalam kehidupan sehari-hari seluruh warga dapat hidup berdampingan, saling menghormati, dan menjaga kerukunan. Nilai-nilai Pancasila bukan sekadar persiapan lomba, melainkan sudah menjadi jalan hidup masyarakat kami sejak lama,” ujar Mulyono.

Senada dengan hal itu, Camat Tutur, H. Hendi, mengapresiasi tinggi kondusivitas Desa Ngadirejo. Ia menyebut desa tersebut tidak memerlukan panggung perlombaan hanya untuk membuktikan pengamalan Pancasila.
”Pancasila sudah dianut dan dihidupi oleh masyarakat Ngadirejo. Penilaian hari ini adalah bukti nyata bahwa warga mampu memelihara persatuan di tengah perbedaan budaya dan keyakinan,” tegas Hendi.
Bukan Sekadar Gapura dan Simbol
Sementara itu, Sekretaris Desa Ngadirejo, Willy, menekankan bahwa status Kampung Pancasila tidak boleh dipersempit sebatas pembangunan monumen, gapura, atau ornamen visual semata. Esensi utamanya terletak pada kultur toleransi yang hidup di tengah warga.
Implementasi nyata sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa terlihat dari pengamanan bersilang antarumat saat perayaan hari besar keagamaan. Kehadiran elemen pengaman seperti Pecalang dan Banser menjadi simbol persaudaraan di Desa Ngadirejo.
”Ketika Natal, teman-teman Banser ikut menjaga gereja. Saat Nyepi, warga Muslim dan Kristen menjaga ketenangan. Begitu pula saat Hari Raya Idulfitri. Kami tidak pernah bergesekan karena persoalan agama, sebab kami merasa semuanya adalah saudara,” tutur Willy.
Video Dua Hari Tembus Nominasi
Keberhasilan Desa Ngadirejo menembus nominasi lima besar dari 24 kecamatan di Kabupaten Pasuruan tak lepas dari karya video singkat yang digarap dalam waktu dua hari oleh Karang Taruna setempat.
Sutradara video sekaligus Ketua Karang Taruna Desa Ngadirejo, Nicolaus Fernando, mengungkapkan bahwa alur cerita video memotret sosok pecalang Tengger yang memiliki kepedulian tinggi dalam menjaga keamanan umat agama lain yang sedang beribadah.
”Pesan utamanya sederhana: walaupun saya seorang pecalang, hak saudara-saudara saya yang beragama lain untuk beribadah tetap wajib saya jaga,” kata Fernando.
Ketua Tim Penilai dari FPK Kabupaten Pasuruan, Gus Ahmad Bayhaqi Kadmi, memberikan apresiasi tinggi atas pesan moral yang disampaikan Desa Ngadirejo. Menurutnya, penilaian lapangan membuktikan bahwa pesan dalam video tersebut memang mencerminkan kenyataan sehari-hari masyarakat setempat.
”Nilai tertinggi berasal dari penerapan nyata sila-sila Pancasila. Video Desa Ngadirejo mampu menyampaikan pesan kerukunan secara alami dan menyentuh, tanpa kesan dibuat-buat hanya untuk kepentingan perlombaan,” pungkas Gus BBayhaqi.mut












