Malang, Bhirawa-Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang setiap tahun di Indonesia menuntut adanya perubahan strategi dari sekadar pemadaman menjadi tindakan preventif yang terstruktur. Pakar Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM., menilai pemerintah harus memanfaatkan pola kejadian tahunan tersebut sebagai dasar membangun sistem pencegahan yang lebih kuat sebelum memasuki musim kemarau.
Menurut Tatag, mayoritas kejadian karhutla di tanah air bukan dipicu oleh faktor alam murni, melainkan akibat aktivitas manusia—baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Faktor cuaca seperti suhu tinggi, lahan kering, dan angin kencang hanya menjadi pemicu yang mempercepat penyebaran api.
“Kalau sudah berbicara pola yang berulang dan kejadian kebakaran tiap tahun, sebenarnya ada kesempatan besar untuk kita melakukan pencegahan,” ujar Tatag kepada Humas UMM, Rabu (19/8).
Tatag menekankan pentingnya Pakar UMM Minta Pemerintah Fokus Pencegahan Karhutla Berbasis Teknologi membangun sistem pencegahan terpadu yang menggabungkan tiga pilar utama: penguatan SDM, pemanfaatan teknologi, dan pelibatan aktif masyarakat.
Ia menilai jumlah personel pengawas hutan saat ini belum sebanding dengan luasnya kawasan yang harus dijaga. Karena itu, penambahan SDM terampil tidak hanya difokuskan untuk tim pemadam, tetapi juga diperbanyak pada sektor pemantauan serta edukasi ke masyarakat sekitar hutan.
Baca Juga :Tingkatkan Kemandirian Ekonomi PMI di Taiwan, Tim KKN UMM Gelar Pelatihan Digital
“Jika pemerintah berorientasi pada aspek pencegahan, maka pelibatan SDM-nya harus banyak dan masif. Harus banyak orang yang diturunkan untuk peduli,” tegasnya.
Selain faktor manusia, ia juga mendesak integrasi teknologi melalui penerapan early warning system guna mendeteksi potensi titik api secara cepat sebelum membesar.
“Dengan SDM yang terbatas, pemerintah harus didukung teknologi. Meskipun tetap membutuhkan tenaga manusia untuk turun ke lapangan, keberadaan teknologi sangat mempermudah pemantauan,” tambah Tatag.
Ia berharap pemerintah tidak lagi bersikap reaktif yang baru sibuk bekerja saat api sudah meluas. Data dan pemetaan wilayah rawan dari tahun-tahun sebelumnya harus dimanfaatkan untuk menyiagakan personel serta peralatan sebelum potensi kebakaran muncul. mut.











