Potong pita menandai operasional fasilitas Infectious Disease Center (Pusat Penyakit Infeksi) RSUB
Kota Malang, Bhirawa
Upaya memperkuat benteng kesehatan masyarakat di Jawa Timur memasuki babak baru. Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) resmi mengoperasionalkan fasilitas Infectious Disease Center (Pusat Penyakit Infeksi) berstandar internasional. Proyek ambisius hasil kolaborasi dengan Uni Eropa dan Jerman ini diproyeksikan menjadi pusat rujukan utama bagi penanganan penyakit menular bagi 42 juta jiwa warga Jatim.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D. Med.Sc., menegaskan bahwa fasilitas ini adalah bukti nyata hilirisasi riset di lingkungan kampus. Menurutnya, RSUB kini bertransformasi menjadi institusi yang tidak hanya fokus pada pendidikan, tapi juga solusi nyata atas ancaman krisis kesehatan global.
”Ini adalah tonggak sejarah bagi UB. Melalui fasilitas ini, kami mengintegrasikan riset mutakhir dengan layanan spesialis. Kami ingin memastikan bahwa ketika terjadi ancaman pandemi atau penyakit baru, RSUB sudah siap dengan deteksi dini dan respons klinis yang mumpuni,” ujar Prof. Widodo dalam acara peresmian yang bertepatan dengan Dies Natalis ke-9 RSUB, Sabtu (10/1).
Dukungan kuat juga disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Erwin Astha Triyono, Sp.PD, K-PTI, FINASIM. Ia menilai kehadiran pusat penyakit infeksi di RSUB sangat krusial bagi peta jalan kesehatan di Jawa Timur. Sebagai pakar penyakit infeksi, ia memahami betul pentingnya fasilitas isolasi dan laboratorium yang terintegrasi.
”Jawa Timur membutuhkan lebih banyak pusat layanan yang memiliki kapasitas respon klinis tinggi seperti ini. Dinkes Jatim sangat terbantu karena keberadaan laboratorium BSL-2 dan ruang isolasi intensif di RSUB ini akan mempercepat proses surveilans dan penanganan kasus-kasus infeksius di wilayah Malang Raya dan sekitarnya,” jelas Prof. Erwin.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, mengungkapkan bahwa investasi ini merupakan bagian dari komitmen ‘Tim Eropa’ untuk mendukung sistem kesehatan nasional Indonesia. “Kami bermitra agar warga Jawa Timur dapat memperoleh manfaat dari teknologi kesehatan terbaik dunia,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur RSUB, Dr. dr. Viera Wardhani, M.Kes, menjelaskan fasilitas ini mencakup instalasi gawat darurat khusus infeksi, rawat jalan, hingga fasilitas penitipan anak untuk transit kasus non-definitif. “Layanan ini kami desain inklusif dan modern, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan risiko penularan silang saat berobat ke RSUB,” tambahnya.
Hadir dalam seremoni tersebut Duta Besar Jerman Ralf Beste, perwakilan Kemendiktisaintek, Kemenkes, serta jajaran kepala daerah Malang Raya. Peresmian diakhiri dengan peninjauan fasilitas laboratorium dan ruang rawat inap yang telah siap beroperasi melayani masyarakat. mut.










