FMIPA UB terus menunjukkan eksistensinya di kancah internasional.
Kota Malang, Bhirawa
Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya (FMIPA UB) kembali menunjukkan eksistensinya di kancah internasional. Kali ini, sebanyak 12 mahasiswa dari program sarjana hingga pascasarjana mengikuti Summer Course bertajuk Banyuwangi Coffee Learning Program: Field Study, Workshop and Cultural Engagement from Farm to Cup.
Kegiatan yang berlangsung selama sepuluh hari (7-15/4) ini merupakan kolaborasi apik antara UB dengan dua kampus ternama Malaysia, yakni Universiti Teknologi MARA (UiTM) dan Universiti Malaysia Sabah (UMS). Para peserta diajak mendalami seluk-beluk kopi, mulai dari budidaya di lahan hingga teknik penyajian di meja saji.
Koordinator kegiatan, Dr. Muhammad Yusuf S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa program ini merupakan gelaran kelima yang diadakan Departemen Biologi UB. Tahun ini, pelaksanaan dibagi menjadi dua tahap: tiga hari secara daring dan tujuh hari secara luring di kampus UB Malang serta Kabupaten Banyuwangi.
”Di Banyuwangi, peserta menginap di rumah warga di Desa Kalipuro. Tujuannya agar mereka bisa berinteraksi langsung dengan petani lokal, memahami budaya, serta mengenal jenis kopi rakyat dan teknik pasca panen tradisional yang memiliki cita rasa unik,” ujar Dr. Yusuf.
Selama di lapangan, para mahasiswa didampingi oleh Mufidah Afiyanti S.P., Ph.D (UB) dan Dr. Umi Hartina Binti Mohamad Razali (UMS). Mereka tidak hanya menerima teori, tetapi juga praktik langsung mengenai teknik penanaman, grafting (penyambungan), pruning (pemangkasan), hingga proses pemetikan kopi.
Selain aspek teknis, mahasiswa dibekali pemahaman mengenai teknik budidaya ramah lingkungan guna menghadapi tantangan perubahan iklim dan fluktuasi harga pasar. Program ini dirancang untuk meningkatkan wawasan mahasiswa dalam bidang rural studies dan manajemen sumber daya alam, khususnya pengelolaan kopi di Asia Tenggara guna mendukung ketahanan pangan.
Imron, petani kopi sekaligus founder MEM Secang Kalipuro, mengakui kekayaan potensi wilayahnya. “Kalipuro memiliki keanekaragaman hayati agroforestri kopi yang tinggi. Pengelolaan tradisional di sini masih terus dilestarikan oleh masyarakat,” tuturnya di sela-sela mendampingi peserta.
Antusiasme tinggi tampak dari para peserta asing. Salah satunya Muhammad A’rif Bin Mohd Ajib dari UiTM. Ia mengaku terkesan dengan pengalaman pertamanya di Banyuwangi. “Kegiatan ini sangat membuka mata saya. Saya tertarik untuk mempelajari cara mengembangkan dan meningkatkan kualitas berbagai jenis kopi,” ungkapnya.
Program ini juga dinilai selaras dengan capaian Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari pendidikan berkualitas, pertumbuhan ekonomi, hingga konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Melalui agenda tahunan ini, diharapkan tercipta kolaborasi berkelanjutan antara akademisi, industri, dan masyarakat dalam memajukan sektor kopi nasional. mut





