Manggarai, Bhirawa – Yayasan Sanggar Dongeng Kepompong Nusantara memberikan pendampingan psikologis bagi 250 anak penyintas gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kegiatan pemulihan trauma ini berlangsung selama dua pekan di dua titik utama, yakni Dusun Nunang (Desa Salama) dan Dusun Motor Pecah (Desa Wangkung), Kecamatan Reok.
Kehadiran relawan di tenda pengungsian Zona Anak disambut hangat para korban terdampak. Anak-anak tampak antusias menyimak dongeng sarat pesan moral yang diselingi penampilan boneka monyet interaktif.
”Anak-anak sangat senang dan terhibur. Kami menyelipkan pesan tentang pentingnya menjaga kebersamaan dan menghentikan perundungan,” ujar Ketua Yayasan Sanggar Dongeng Kepompong Nusantara, Yudi Priyanto.
Selain di tenda pengungsian, tim menjangkau sejumlah lembaga pendidikan, di antaranya SDN 2 Reo, MIN 1 Reok, MIN 2 Reok, TK/RA Nurul Huda Reo, TK/PAUD Annurinamasa, Rumah Tahfidz An Najwa, serta Pondok Pesantren Pancasila Reo. Di lokasi-lokasi tersebut, relawan menggelar berbagai aktivitas rekreasi, mulai dari menggambar, mewarnai, bermain bola, hingga memancing ikan di sungai.
Para siswa juga dibekali simulasi mitigasi bencana gempa bumi. Materi mencakup tata cara penyelamatan diri di sekolah dan jalur evakuasi menuju titik kumpul aman saat keadaan darurat.
Relawan turut mendistribusikan perlengkapan sekolah berupa tas, buku tulis, alat tulis, serta peralatan makan dan minum. Salah satu siswa, Fitri, mengaku gembira mengikuti sesi interaktif bersama para relawan.
”Senang sekali. Bonekanya lucu, nyanyinya salah-salah terus,” tutur Fitri riang.
Di samping pemulihan psikologis anak, yayasan mendistribusikan 80.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar warga. Ketersediaan air bersih menjadi kendala utama penyintas karena warga terpaksa berjalan kaki melintasi perbukitan menuju sumber air pegunungan. Saat musim kemarau, warga umumnya harus merogoh kocek hingga Rp 250.000 per 1.000 liter air yang habis hanya dalam tempo tiga hingga empat hari.
Bantuan paket kebutuhan pokok (sembako) juga disalurkan kepada 250 kepala keluarga (KK) di sekitar lokasi pengungsian. Bantuan berisi beras lima kilogram, minyak goreng, gula, teh celup, kopi, kecap, saus, dan susu kental manis.
Ketua RT 06 RW 01 Dusun Nunang, Engkos (45), mengapresiasi dukungan moral dan material yang diberikan para relawan.
”Bantuan air bersih, bahan makanan, dan pendampingan untuk anak-anak sangat berarti bagi warga. Anak-anak kembali bersemangat untuk melanjutkan hari-harinya,” pungkas Engkos.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa bumi NTT berdampak di tujuh kabupaten, mencakup Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Ende, Sikka, dan Flores Timur. Jumlah pengungsi yang semula menyentuh 150.000 jiwa pada masa tanggap darurat kini berangsur turun menjadi sekitar 46.000 jiwa.mut






