Rancang Jembatan Baja Paling Ringan dan Cepat Dirakit, Tim Surya UMM Sabet Juara 1 Nasional KJI 2026

Malang, Bhirawa – Prestasi gemilang di kancah nasional kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim Surya dari Lembaga Semi Otonom (LSO) Fakultas Teknik UMM berhasil menyabet Juara 1 Kategori Jembatan Model Rangka Baja Berskala dalam ajang bergengsi Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XXI 2026.

​Kompetisi tahunan garapan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tersebut digelar di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, pada 18–22 Oktober 2026.

​Tim Surya UMM beranggotakan tiga mahasiswa Program Studi Teknik Sipil, yakni Alfita Kayasa A.S. (angkatan 2024), serta Danilla Shava Claudya dan Muhammad Fariz Irfani (keduanya angkatan 2023). Ketiganya sukses mengungguli tujuh finalis perguruan tinggi lain di babak final kategori rangka baja.

​Anggota tim, Alfita Kayasa, mengungkapkan bahwa kunci kemenangan mereka terletak pada efisiensi bobot struktur tanpa mengorbankan kekuatan dan batas lendutan aman saat menerima beban uji.

​”Tantangannya adalah bagaimana menghasilkan jembatan dengan bobot seringan mungkin, lendutan terkontrol presisi, namun daya tahannya tetap kukuh. Kami melakukan kalkulasi analitis dan simulasi digital berulang kali sebelum proses fabrikasi,” ungkap Alfita, Jumat 30/10.

​Tahapan penilaian KJI XXI 2026 tergolong ketat dengan bobot proposal 20 persen, presentasi 15 persen, serta pelaksanaan uji fisik sebesar 65 persen. Aspek perakitan nyata menjadi poin krusial, mulai dari metode konstruksi, efisiensi waktu, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga nilai inovasi ramah lingkungan.

​Dalam unjuk kerja tersebut, jembatan karya Tim Surya UMM memikat dewan juri dengan mengintegrasikan sejumlah fitur mutakhir. Di antaranya pemanfaatan sisa material sebagai perancah (scaffolding), integrasi sensor monitor, panel surya mini untuk penerangan, serta adopsi beton Ground Granulated Blast-furnace Slag (GGBS) ramah lingkungan pada lantai jembatan.

​Dosen Pembimbing Surya Team UMM, Alfin Suprayugo, S.T., M.Sc., Ph.D., mengapresiasi determinasi para bimbingannya yang berlatih intensif hingga mencatatkan durasi rakit sekitar 20 menit 30 detik.

​”Karya mahasiswa UMM kali ini terbukti menjadi jembatan dengan bobot teringan sekaligus perakitan tercepat di antara delapan finalis kategori rangka baja. Mereka mampu mengawinkan teori perancangan perangkat lunak dengan realitas teknis perakitan lapangan,” tegas Alfin.

​Pihak universitas memastikan dukungan penuh terhadap ekosistem kompetisi semacam ini guna mematangkan kesiapan lulusan teknik sipil menghadapi kebutuhan industri infrastruktur masa depan. mut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *