Kota Malang, Bhirawa – Guratan peta wilayah kini menjelma karya adiluhung sarat makna filosofis. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang resmi memperkenalkan corak batik anyar bernama Sekar Jagad Pancawarna, sebuah kreasi visual yang mengintegrasikan karakteristik teritorial lima kecamatan ke dalam bentangan kain mori.
Peluncuran karya seni ini menjadi sorotan utama dalam gelaran Festival Batik Kota Malang bertepatan dengan momentum Hari Batik Nasional, Jumat (2/10). Inovasi tersebut dirancang sebagai representasi otentik sejarah, potensi lokal, serta ekspresi kebudayaan masyarakat Bumi Arema.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengungkapkan bahwa motif Sekar Jagad Pancawarna menawarkan sudut pandang baru dalam membaca identitas kota. Perbedaan corak serta gradasi warna di setiap sudut kain menggambarkan keunikan geografis yang menyatu dalam keharmonisan wilayah.
”Karya ini lahir dari narasi riil Kota Malang. Siluet lekukannya meniru garis peta daerah, di mana karakter lima kecamatan dituangkan lewat ragam pigmen warna tersendiri. Melihat sehelai kain ini sama halnya menelusuri rangkuman kisah kota kita,” tutur Wahyu.
Kelahiran motif kontemporer ini memperkaya perbendaharaan visual khas Malangan yang selama ini lekat dengan ikon topeng Malangan, sulur rante rebesi, monumen tugu, hingga vegetasi biji kopi. Wahyu menekankan pentingnya keberanian bereksplorasi secara visual agar produk perajin lokal tidak monoton dan mampu memikat selera pasar generasi muda.
Menurutnya, apresiasi dunia internasional melalui UNESCO atas batik Indonesia sejak 2009 harus dibarengi aksi nyata di level akar rumput. Penguatan industri kriya lokal dituntut menyentuh ranah manajerial dan pemanfaatan teknologi digital.
”Kemandirian perajin menjadi target prioritas. Intervensi kebijakan diarahkan mulai dari peningkatan kecakapan teknis, jaminan mutu bahan, literasi pemasaran daring, hingga pembukaan jejaring rantai pasok agar nilai tambahnya dirasakan langsung para pelaku usaha kecil,” imbuhnya.
Strategi penguatan ekosistem batik Kota Malang turut mengandalkan sinergi lintas pemangku kepentingan. Acara tersebut mempertemukan jajaran legislatif daerah, akademisi Universitas Merdeka (Unmer) Malang, Asosiasi Perajin Batik Kota Malang (APBKM), perwakilan otoritas moneter Bank Indonesia, institusi TNI-Polri, pengelola SMK kejuruan, pegiat sanggar seni, hingga jajaran media massa.
Melalui kolaborasi terpadu ini, sektor kriya batik diharapkan tidak berhenti pada etalase pameran semata, melainkan menjadi komoditas ekonomi bernilai tinggi yang siap bersaing di kancah nasional maupun global. mut










