Riset Pala Jawa, Tim Peneliti UM Ungkap 123 Sinyal Metabolit Daun untuk Dorong Konservasi Endemik

Malang, Bhirawa-Universitas Negeri Malang (UM) kembali menunjukkan kontribusi nyatanya dalam menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati lokal. Melalui penelitian berkelanjutan di kawasan Hutan Lindung Pesisir Pantai Selatan Kabupaten Malang, tim peneliti UM berhasil mengungkap 123 sinyal metabolit daun pala Jawa (Myristica teysmannii) sekaligus memetakan karakter mikrohabitatnya sebagai basis ilmiah konservasi spesies endemik Indonesia.

​Tim riset yang dipimpin Prof. Dr. Fatchur Rohman, M.Si., bersama para peneliti lintas disiplin—Bagus Priambodo, Ph.D., Kennis Rozana, M.Si., Indra Fardhani, Ph.D., Dilla Anisa Ikhtira, M.Si., Dr. Maisuna Kundariati, dan Dr. Zia Aulia Zaidin Putra—telah mengawal kajian multidimensional ini secara konsisten sejak 2024.

​Prof. Fatchur Rohman menjelaskan, pengembangan riset ini dilakukan secara bertahap. Jika pada 2024 kajian berfokus pada ekologis lingkungan dan dilanjutkan pada 2025 dengan metode environmental DNA (eDNA) tanah, maka riset periode 3 Juni hingga 31 Juli 2026 ini memperluas jangkauan pada analisis profil metabolit daun.

Baca Juga :Inflasi Kota Malang Terjaga di Angka 3,16 Persen, Pakar Ekonomi UM Ingatkan Pelaku Usaha Jaga Margin Laba

​”Dari pengujian Liquid Chromatography–Mass Spectrometry (LC-MS), kami menemukan 123 sinyal metabolit pada daun pala Jawa. Profil awal ini mencakup kelompok neolignan turunan arilpropanoid, fenilpropanoid, alkilfenol, hingga glikosida flavonoid yang berkaitan erat dengan mekanisme pertahanan alami tumbuhan,” paparnya.

​Meski demikian, pihak peneliti menegaskan bahwa temuan 123 sinyal tersebut merupakan data profil awal yang masih memerlukan anotasi dan verifikasi struktur laboratorium lebih lanjut sebelum ditetapkan secara definitif.

​Selain aspek kimiawi jaringan tumbuhan, pengamatan mikrohabitat menunjukkan bahwa pala Jawa tumbuh pada kondisi lingkungan yang tidak sepenuhnya homogen. Pengukuran lapangan mencatat variasi suhu tanah 25–28°C, suhu udara 30,6–30,7°C, pH tanah 5,8–6,1, kelembapan udara 76,5–81%, kelembapan tanah 35–93%, serta intensitas cahaya 20–933 lux.

​Kombinasi data ekologis, analisis molekuler eDNA non-destruktif, dan pemetaan metabolit ini menjadikan UM sebagai pelopor riset konservasi berbasis sains di Jawa Timur. Langkah terpadu ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 15 terkait perlindungan ekosistem daratan dan keanekaragaman hayati. mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *