​Solusi Hama dan Nutrisi Tanaman, Prof. Amin Guru Besar FSTeM UB Hadirkan Inovasi Pupuk Cair Hayati ‘Nano Agro

Kota Malang, Bhirawa – Guru Besar Departemen Biologi Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Amin Setyo Leksono, meluncurkan inovasi Pupuk Organik Cair (POC) dan Pupuk Hayati Cair (PHC) bernama Nano Agro. Inovasi ini hadir sebagai solusi ganda bagi sektor pertanian: menyuburkan tanaman sekaligus mengendalikan hama tanpa merusak lingkungan.

​ Pupuk cair ini dirancang fleksibel sehingga dapat dipergunakan secara berdampingan dengan pupuk padat (seperti kompos) maupun pupuk sintetis. POC berfungsi menyediakan unsur hara yang mudah diserap tanaman dan memperbaiki kualitas tanah. Sementara itu, PHC memanfaatkan aktivitas mikroba hidup untuk mempercepat penguraian bahan organik serta menjaga kesehatan tanaman secara menyeluruh.

​Keunggulan utama Nano Agro terletak pada pengayaan agen hayati berupa entomopatogen, seperti cendawan Beauveria bassiana dan mikroorganisme Streptomyces sp.. Kombinasi ini efektif mengendalikan hama tanaman—khususnya pada tanaman buah-buahan—sekaligus memacu pertumbuhan buah agar lebih lebat dan padat.

​”Inovasi ini berawal dari keluhan para petani saat kami melakukan kegiatan pengabdian masyarakat. Masalah hama dan penyakit tanaman rata-rata sama. Nano Agro hadir sebagai produk multifungsi untuk menjawab kebutuhan tersebut,” ujar Prof. Amin.

​Gagasan ini mulai dikembangkan sejak 2023, menyempurnakan riset pengayaan nutrisi yang telah dirintis di Kepanjen sejak 2014 lalu.

​Guna memastikan hasil riset tidak berhenti di laboratorium, Prof. Amin menggandeng mitra industri di Tulungagung untuk memproduksi pupuk ini secara masal.

​Dengan harga yang terjangkau, yaitu Rp50.000 per liter, Nano Agro memiliki daya saing tinggi. Saat ini, pemasaran difokuskan untuk memenuhi kebutuhan wilayah Jawa Timur, seperti Tulungagung, Kediri, dan Trenggalek.

​”Pasar di tingkat kabupaten masih sangat bagus karena kompetitor sejenis belum banyak. Fokus kami saat ini adalah memenuhi kapasitas produksi untuk Jawa Timur terlebih dahulu sebelum merambah skala nasional maupun ekspor,” tambahnya.

​Menatap masa depan, tim peneliti UB tengah menyiapkan pengembangan pupuk cair berbasis nanomaterial vermikompos. Dengan memperkecil ukuran partikel hasil olahan cacing hingga skala nano, tingkat ketersediaan dan efisiensi penyerapan nutrisi oleh tanaman diharapkan meningkat pesat.

​Langkah ini menegaskan komitmen UB dalam mengintegrasikan bioteknologi, nanoteknologi, dan prinsip ekonomi sirkular demi mendukung ketahanan pangan nasional.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *