Malang, Bhirawa – Mengemban status sebagai mahasiswa non-Muslim di lingkungan perguruan tinggi Islam sempat memicu kekhawatiran bagi Aloysius Gonzaga Alnabe dan keluarganya. Namun, anggapan tersebut seketika luntur usai ia merampungkan studi selama empat tahun di Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Pemuda yang akrab disapa Gonza ini justru membuktikan bahwa perbedaan keyakinan bukan sekat untuk mengukir prestasi tertinggi. Pada gelaran Wisuda UMM ke-123, Selasa 22/9, Gonza resmi dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, 4,00.
Sebelum resmi menginjakkan kaki di Kampus Putih—sebutan akrab UMM—keluarga Gonza sempat mencemaskan adanya potensi diskriminasi. Sang ibu bahkan sempat berpesan agar ia tidak berdoa secara terbuka di area publik. Rasa waswas tersebut buyar saat dirinya mulai membaur langsung dengan jajaran dosen serta sesama mahasiswa.
Alih-alih merasa terkucilkan, mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang diikutinya justru menjadi sarana membuka wawasan sekaligus merefleksikan nilai-nilai keimanannya sebagai pemeluk Kristen.
“Semakin saya belajar di UMM, iman saya justru semakin diperdalam. Banyak rekan yang mengajak berdiskusi, bertanya, hingga berdebat secara sehat. Dinamika itu mendorong saya mengeksplorasi ajaran iman saya sendiri dan memperluas pengetahuan,” tutur Gonza.
Ruang dialog yang inklusif ini perlahan mengikis prasangka yang sempat ia miliki terhadap Islam. Gonza merasa UMM memberikan kebebasan penuh bagi mahasiswa untuk berekspresi dan menyampaikan sudut pandang tanpa memandang latar belakang primordial.
“UMM memandang saya lebih dari sekadar individu yang berlainan keyakinan. Mereka memanusiakan saya seutuhnya sebagai sesama ciptaan Tuhan,” tegasnya.
Salah satu momen berkesan baginya berlangsung pada perkuliahan Politik Dunia Islam, saat kelas menghadirkan mantan anggota ISIS untuk berdialog secara terbuka. Interaksi tersebut memicu Gonza untuk terus menguji dan membongkar prasangka yang selama ini tertanam.
Tak sebatas unggul di bidang akademis, kiprah Gonza tercatat cemerlang di berbagai panggung internasional. Pada 2024, ia lolos seleksi beasiswa Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) di Universitat Pompeu Fabra, Barcelona, Spanyol. Ia pun tercatat aktif dalam agenda Learning Express kolaborasi UMM bersama Singapore Polytechnic, program kepemudaan ASEAN di Madrid, serta menginisiasi bisnis rintisan di sektor pendidikan.
Menutup perjalanannya, Gonza berpesan kepada calon mahasiswa non-Muslim agar tidak ragu menempuh pendidikan di kampus Muhammadiyah. Toleransi, menurutnya, tidak lahir dari sekadar wacana teoritis di ruang kelas, melainkan hadir dari keberanian berinteraksi langsung dalam kehidupan nyata.
“Toleransi itu nyata saat kita saling berinteraksi. Ketika kita hidup bersama dan membaur dengan mereka, cara pandang kita niscaya berubah,” pungkasnya.mut






