Tim Patriot UB Sulap Pangan Lokal Klamono–Segun Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Sorong, Bhirawa — ​Inisiatif   Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya (UB) Kelompok 19 melalui Program Ekspedisi Patriot 2026 Kementerian Transmigrasi, menciptakan pangan lokal bernilai tinggi.

Program yang dipimpin Dr. Eng. Elya Mufidah, S.Pi., MP, beranggotakan Dina Aqilla Salsabila, Annisa Rosadilla, Virda Agfinasari Prayitno, Dian Sari, dan Izdihar Nabila ini berfokus mendampingi warga setempat mengoptimalkan komoditas lokal.

​Ketua Tim Ekspedisi Patriot UB Kelompok 19, Dr. Eng. Elya Mufidah, menjelaskan bahwa kawasan Klamono–Segun menyimpan potensi besar, seperti tomat, cabai, daun jeruk, jantung pisang, hingga kepiting bakau. Namun, saat panen melimpah, komoditas seperti tomat kerap anjlok harganya dan kepiting belum diolah optimal.

​“Sekolah ini tidak hanya mengajari warga cara memproduksi, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama membaca potensi pasar, menjaga mutu, standardisasi resep, keamanan pangan, pengemasan, hingga perhitungan biaya produksi,” jelas Elya.

​Rangkaian pendampingan telah bergulir bertahap sejak Agustus hingga September 2026, meliputi sosialisasi, pelatihan produk, praktik produksi, hingga pengemasan. Puncaknya, hasil olahan awal dipamerkan pada 15–16 September 2026, sebelum program dilanjutkan hingga November 2026 mendatang.

​Dari pendampingan ini, lahir merek dagang bersama bernama SORASA dengan lima varian produk unggulan:

​SORASA Saos Tomat,SORASA Sambal Bawang, ​SORASA Bumbu Tabur Cabai Daun Jeruk,SORASA Sambal Kepiting Papua, danSORASA Abon Jantung Pisang.

​Guna menjamin keberlanjutan usaha mandiri warga, tim UB tidak sekadar meninggalkan resep. Sebanyak 10 kelompok UMKM binaan resmi dibentuk sebagai motor penggerak. Warga juga dibekali modul pembelajaran, silabus, paket SOP produksi, serta bantuan alat operasional berupa blender, penghalus bumbu kering, kompor, food dehydrator, alat penyegel kemasan (sealer), serta paket stiker label kemasan.

​Langkah konkret civitas akademika UB tersebut menuai apresiasi dari pemerintah daerah setempat. Kepala Bidang Transmigrasi Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Energi dan Sumber Daya Mineral Papua Barat Daya, Ronald Noya, menyebut kehadiran tim membawa dampak nyata bagi masyarakat transmigrasi Klamono–Segun.

​“Paket pemberdayaan yang dibawa tim UB tergolong lengkap dan solutif. Tidak hanya pelatihan dan alat, tetapi disertai modul dan model terstruktur yang dapat terus direplikasi masyarakat secara mandiri meski program telah usai,” ungkap Ronald.

​Melalui Sekolah Foodpreneur ini, paradigma kawasan transmigrasi didorong untuk bergerak maju—tidak sekadar mobilitas kependudukan, melainkan penguatan kapasitas SDM dan penciptaan kemandirian ekonomi berbasis potensi pangan lokal.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *