Malang, Bhirawa-Komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam menghadirkan solusi konkret di tengah masyarakat kembali dibuktikan. Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA), Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Peternakan (BEM FPP) UMM meluncurkan inovasi smart farming pengolahan kopi di Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Program bertajuk “Smart Multifunctional Fermentor dengan Sistem Karbonasi Terkontrol untuk Meningkatkan Mutu dan Nilai Tambah Kopi Petani di Desa Klampok” ini berlangsung intensif sejak Juni hingga Oktober 2026. Inisiatif tersebut lahir dari kegelisahan atas minimnya fasilitas pengolahan pascapanen yang dialami Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Klampok Lestari.
Ketua Pelaksana Program, Moh. Amir Muktar, mengungkapkan bahwa berdasarkan survei dan Focus Group Discussion (FGD), petani setempat selama ini terpaksa melepas buah kopi segar ke tengkulak akibat keterbatasan alat. Harga jualnya pun tergolong rendah, yakni Rp15.000 per kilogram untuk jenis robusta dan Rp20.000 per kilogram untuk arabika.
“Posisi tawar petani selama ini lemah karena harus menjual buah basah dengan harga murah. Para petani sebenarnya memiliki keinginan kuat mengolah pascapanen sendiri agar nilai jualnya berlipat ganda,” jelas mahasiswa Peternakan angkatan 2023 tersebut, Senin (21/9/2026).
Menjawab tantangan tersebut, tim BEM FPP UMM mengintroduksi Smart Multifunctional Fermentor. Alat ini bekerja dengan sistem injeksi gas CO2 terkontrol guna menciptakan kondisi anaerob sempurna. Perangkat pintar ini juga dibekali sensor pemantau suhu dan tingkat keasaman (pH) secara real-time, sehingga proses fermentasi berjalan presisi dan seragam.
Lewat teknologi ini, petani kini dapat mengolah ceri kopi melalui metode lanjutan, seperti natural anaerob, honey anaerob, hingga carbonic maceration.
“Teknologi ini memecahkan problem inkonsistensi mutu kopi. Dengan fermentasi metode carbonic maceration, profil cita rasa kopi berpotensi menembus cupping score di atas 80 dengan taksiran harga jual mencapai Rp350.000 per kilogram,” imbuh Amir.
Tak sebatas alih teknologi, para mahasiswa turut menggelar pelatihan, pendampingan teknis pengoperasian alat, evaluasi berkala, hingga penguatan kelembagaan kelompok tani. Untuk menjamin rantai pasok dan serapan pasar, tim pelaksana juga menggandeng Koperasi Wonokerto Rahayu sebagai mitra distribusi.
Dosen pendamping, Afifa Husna, S.TP., M.TP., M.Sc., menegaskan bahwa program pengabdian ini memberikan dampak ganda, baik bagi penguatan ekonomi desa maupun pembentukan kapasitas mahasiswa.
“Mahasiswa tidak hanya merancang teori, tetapi mempraktikkan manajemen lapangan, komunikasi publik, dan problem solving. Ke depan, pendampingan di Desa Klampok akan terus dimatangkan agar potensi komoditas kopi lokal benar-benar menjadi motor kemandirian ekonomi warga,” pungkasnya.mut






