Malang, Bhirawa – Wisuda ke-123 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome UMM, Kamis 24/9, ada yang menarik, lantaran seorang wisudawan dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam, bernama Isa Almasih Putra Muhammadiyah, sukses mencuri perhatian ribuan wisudawan dan para orang tua yang hadir.
Saat berdiri di podium untuk menyampaikan pesan dan kesan wisudawan, pria ini langsung mencairkan suasana dengan mengenalkan nama lengkapnya yang terbilang sangat unik.
”Perkenalkan, nama saya Isa Almasih. Tapi tenang, ada terusannya: Putra Muhammadiyah,” ucapnya yang seketika disambut gelak tawa dan riuh tepuk tangan seisi ruangan.
Isa menuturkan, keunikan namanya kerap memantik rasa penasaran orang lain sejak hari pertama menginjakkan kaki di UMM, mulai dari masa Pengenalan Perkuliahan dan Keakraban Kampus (P2KK), ruang kelas, hingga forum organisasi mahasiswa. Tak jarang ia harus menunjukkan kartu identitas resmi untuk meyakinkan pihak yang meragukannya.
Ia bahkan berseloroh mengenai tradisi nama unik di Kampus Putih tersebut, mengingat sebelumnya UMM juga sempat meluluskan mahasiswa bernama Imam Mahdi.
Di balik namanya yang menyedot atensi, Isa mengungkapkan perjalanan akademiknya tidak selalu mulus tanpa keraguan. Di awal masa perkuliahan, ia mengaku sempat dilanda rasa minder lantaran memilih jurusan PAI tanpa memiliki riwayat pendidikan formal dari pondok pesantren.
Namun, iklim akademik inklusif di Kampus Putih secara bertahap menghapus keraguan tersebut. Interaksi produktif bersama para dosen serta dinamika keorganisasian membimbingnya memahami makna pendidikan tinggi secara lebih mendalam.
”Dari ruang kelas, organisasi, dan obrolan-obrolan sederhana, perlahan saya memahami bahwa kuliah bukan sekadar berburu gelar, melainkan cara memandang ilmu, bekerja, dan memberi manfaat nyata,” tuturnya.
Refleksi tersebut turut mengilhami tugas akhir kesarjanaannya yang bertajuk “Teologi al-‘Ashr sebagai Basis Budaya Organisasi di Universitas Muhammadiyah Malang”. Melalui riset itu, ia mendalami internalisasi falsafah nilai IIIMAN (Ikhlas, Ihsan, Itqan, Ma’iyyah, Amanah, dan Nazahah) yang menjadi pondasi etos kerja dan pembelajaran sivitas akademika UMM.
Menurutnya, perguruan tinggi harus menjadi kawah candradimuka bagi terciptanya transformative learning, di mana teori-teori akademik dapat dikonversi menjadi solusi aplikatif bagi problem sosial masyarakat.
Mengakhiri pidatonya, Isa memberikan pesan reflektif kepada seluruh wisudawan agar tidak menganggap prosesi pemindahan kuncir toga sebagai garis akhir pembelajaran.
”Ijazah adalah tanda bahwa kita pernah belajar; tetapi kebermanfaatan adalah bukti bahwa kita benar-benar telah belajar,” tegasnya.mut






