Guru Besar FEB UB Prof Abdul Gofar Perkenalkan CA-GOV

Malang, Bhirawa – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Prof. Abdul Ghofar, SE., M.Si., M.Acc., DBA., Ak., CA., CPMA., ASCA., QRGP, memperkenalkan model tata kelola inovatif bertajuk Contextual-Adaptive Good Governance (CA-GOV). Model ini digagas sebagai respon strategis dalam menjawab kompleksitas dinamika lingkungan bisnis modern yang bergerak cepat.

​Gagasan tersebut dipaparkan dalam pidato pengukuhannya sebagai profesor bidang Tata Kelola Korporat yang berlangsung di Gedung Samantha Krida, Minggu (8/11/2026).

​Prof. Abdul Ghofar menjelaskan, model CA-GOV dikembangkan guna mengatasi keterbatasan sistem tata kelola konvensional yang selama ini cenderung kaku serta berorientasi sebatas pada struktur formal dan pemenuhan kepatuhan (compliance) semata. Menurutnya, efektivitas corporate governance tidak cukup ditentukan hanya oleh keberadaan instrumen pengawasan seperti dewan komisaris atau komite audit.

​”Efektivitas tata kelola sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi dalam menyesuaikan mekanisme tata kelolanya terhadap perubahan konteks, baik internal maupun eksternal. CA-GOV mendorong korporasi tidak sekadar patuh aturan, melainkan aktif mengenali ketidaksesuaian tata kelola dan melakukan penyesuaian berkelanjutan agar fungsi pengawasan tetap berjalan efektif,” jelasnya.

​Model CA-GOV ini mengintegrasikan lima teori utama dalam corporate governance, yakni agency theory, stewardship theory, stakeholder theory, institutional theory, hingga contingency theory. Melalui pendekatan terpadu ini, CA-GOV merajut hubungan harmonis antara konteks organisasi, konteks institusi, konfigurasi tata kelola, proses tata kelola, dan kapabilitas adaptif ke dalam sebuah kerangka kerja yang dinamis.

​Kebaruan (novelty) dari CA-GOV bertumpu pada tiga pilar utama: dynamic governance fit, governance misfit, serta adaptive governance recalibration. Ketiganya dirancang agar manajemen dapat secara mandiri mengidentifikasi anomali atau ketidaksesuaian tata kelola, membedah akar penyebabnya, lalu melancarkan perbaikan adaptif yang selaras dengan situasi pasar.

​Pendekatan ini dinilai sangat krusial bagi perusahaan terbuka maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sarat dengan tantangan tata kelola yang kian berlapis. Perusahaan terbuka dituntut menyeimbangkan benturan kepentingan antara manajemen, pemegang saham pengendali, dan pemegang saham minoritas. Di sisi lain, BUMN memikul beban ganda untuk menyeimbangkan tujuan komersial dengan penugasan pelayanan publik di bawah bayang-bayang pengaruh institusional negara.

​”Melalui pendekatan kontekstual dan adaptif, CA-GOV diharapkan mampu memperkuat akuntabilitas, efektivitas pengawasan, mitigasi fraud, pengelolaan risiko, hingga keberlanjutan bisnis. Lebih dari itu, model ini membentuk learning organization yang terus belajar dari dinamika pengalaman untuk menyempurnakan mekanisme tata kelolanya,” tambahnya.

​Kendati demikian, Prof. Abdul Ghofar menggarisbawahi bahwa CA-GOV masih memerlukan pengujian empiris lanjutan guna menakar efektivitas maupun batasan operasional di lapangan. Ke depan, pengembangan riset akan diarahkan pada penguatan fondasi teoretis serta integrasi tantangan kontemporer seperti transformasi digital, adopsi kecerdasan artifisial (AI), risiko keberlanjutan (sustainability risk), hingga dinamika pemangku kepentingan yang makin kompleks.

​”Penguatan kajian ini diharapkan mampu menjadikan CA-GOV sebagai alternatif model tata kelola yang jauh lebih adaptif dan aplikatif, baik untuk BUMN maupun emiten terbuka di tengah turbulensi lanskap bisnis global,” pungkasnya.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *