Pascasarjana Unisma Hadirkan KH Afifuddin Muhajir Bedah Harmoni Syariat dan Konstitusi, Pada Peringatan Hari Santri

Malang, Bhirawa– Program Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma) menyemarakkan momentum Hari Santri dengan menggelar kuliah tamu bertajuk “Islam, Negara, dan Syariat Agama di Indonesia”, Jumat (30/10/2026). Bertempat di Aula KH Abdurrahman Wahid Lantai 7 Gedung Pascasarjana Unisma, Jalan MT Haryono Kota Malang, forum ilmiah tersebut menghadirkan pakar ushul fikih terkemuka, Dr. (H.C.) K.H. Afifuddin Muhajir.

​Sekitar 500 peserta dari berbagai elemen memadati ruangan menyimak pemaparan Kiai Afifuddin, yang saat ini mengemban amanah sebagai Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Kehadirannya sekaligus menjadi ajang napak tilas akademik, mengingat Kiai Afifuddin merupakan alumnus magister Fakultas Agama Islam (FAI) Unisma.

​Dalam uraian ilmiahnya, Kiai Afifuddin membedah dialektika antara agama dan kekuasaan negara pascaperistiwa hijrah Nabi Muhammad saw. Mengutip kaidah shobron jamil, pembentukan tatanan kekuatan baru di Madinah diarahkan untuk menegakkan keadilan sosial dan menjamin stabilitas umat.

​Ia menerangkan bahwa keteraturan hidup manusia berlandaskan pada tiga pilar kendali utama:

​Kendali Agama: Kesadaran spiritual berbasis ketakwaan kepada Allah Swt. dan kewaspadaan terhadap dosa.

​Kendali Kekuasaan: Penegakan hukum positif dan sanksi formal negara saat kendali moral personal memudar.

​Kendali Fitrah Kemanusiaan: Nurani murni (tabi’at) yang menolak kezaliman dan memandang korupsi sebagai hal yang menjijikkan secara moral.

​”Kekuasaan baru hadir secara nyata apabila ada entitas negara. Karena itu, sinergi antara nilai syariat dan kepatuhan terhadap tatanan hukum formal bernegara merupakan pilar penopang peradaban yang berkeadilan,” tegas akademisi Ma’had Aly Sukorejo tersebut.

​Direktur Pascasarjana Unisma, Prof. H. Mas’ud Said, M.M., Ph.D., mengapresiasi antusiasme peserta yang menghidupkan dialog interaktif sepanjang agenda berlangsung.

​”Momentum Hari Santri ini memberikan pencerahan ganda bagi kami, yakni penguatan akidah keagamaan sekaligus pemahaman kenegaraan yang komprehensif. Dialog berlangsung sangat hidup di hadapan sekitar 500 audiens,” kata Prof. Mas’ud.

​Ia menegaskan, kultur akademik integratif semacam ini dirancang agar mahasiswa dan alumni Pascasarjana Unisma terus naik kelas.

​”Kami mendorong lulusan pascasarjana tidak berhenti pada tataran teori, tetapi aktif menjadi pengamal ilmu agama, tata negara, maupun keilmuan terapan di bidang hukum, kenotariatan, pendidikan, dan sektor profesional lainnya,” imbuhnya.

​Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Keagamaan, Dr. H. Muhammad Yunus, S.Pd., M.Pd. Agenda ini menjadi bagian dari penguatan tradisi intelektual Unisma dalam rangka akselerasi menuju World Class University (WCU) pada 2027.

​Hadir pula dalam kesempatan tersebut jajaran Dewan Pembina dan Pengurus Yayasan Unisma, santri Pesantren Ainul Yaqin, perwakilan PAPMII Malang, jajaran mitra Bank Jatim Syariah Cabang Malang, serta jaringan Ikatan Keluarga Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSAS) Sukorejo Situbondo yang sekaligus membuka penjajakan kemitraan studi lanjut jenjang magister dan ddoktor.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *