PR V UB Prof Dr Unti Ludigdo memimpin peluncuran BOUMI di Baloga Batu
Kota Malang, Bhirawa
Universitas Brawijaya (UB) terus memperkuat komitmennya dalam hilirisasi riset agar tidak sekadar berakhir sebagai tumpukan dokumen di perpustakaan. Melalui kolaborasi strategis lintas sektor, UB resmi meluncurkan BOUMI, sebuah brand personal care premium yang memanfaatkan limbah rambut jagung dan minyak atsiri Nusantara sebagai bahan utama.
Wakil Rektor V UB, Prof. Dr. Unti Ludigdo, menegaskan bahwa peluncuran BOUMI merupakan jawaban konkret atas kebutuhan pasar, khususnya bagi anak usia 4 hingga 14 tahun. Selama ini, kategori usia tersebut sering terjepit di antara produk bayi yang terlalu ringan atau produk dewasa yang terlalu keras bagi kulit sensitif mereka.
”Kami tidak ingin riset kami hanya berhenti di rak perpustakaan atau sekadar dibaca. Melalui BOUMI, kami ingin hasil inovasi ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara luas,” ujar Prof. Unti di sela-sela peluncuran di Baloga Batu, Jum at 17/4.
Keberhasilan ini tidak lepas dari implementasi model Penta Helix ABCGM. UB menggandeng raksasa industri Cedefindo (Martha Tilaar Group), komunitas wisata Batu Love Garden (Jatim Park Group), serta dukungan pemerintah dan media. Sinergi ini memastikan riset laboratorium dapat menembus pasar komersial dengan standar industri yang ketat.
Kepala Institut Atsiri UB, Prof. Dr. Warsito, menambahkan bahwa paradigma riset saat ini memang harus bergeser dari sekadar publikasi ilmiah menuju penciptaan produk aplikatif yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Kami mencoba mengintegrasikan riset dengan berbagai bidang, termasuk teknologi kelistrikan untuk menghasilkan prototipe unggulan. Tujuannya satu: riset harus menjadi solusi nyata,” tegas Prof. Warsito.
Salah satu poin menarik dalam produk ini adalah penggunaan limbah rambut jagung. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UB, Dr. Rosaliana Ariesta Laeliocattleya, menjelaskan bahwa selama ini rambut jagung hanya dianggap sampah pertanian yang tidak bernilai.
“Padahal, hasil penelitian kami menunjukkan bahan ini kaya akan kandungan bioaktif yang berfungsi sebagai antioksidan dan antibakteri. Dengan produksi jagung nasional yang melimpah, ini adalah peluang besar bagi industri berbasis sumber daya lokal yang kompetitif,” paparnya.
Dari sisi keamanan medis, Kepala Program Studi Kesehatan Kulit UB, Dr. dr. Sinta Murlistyarini, Sp.DVE, menekankan bahwa inovasi ini telah melalui pendekatan multidisiplin. Hal ini krusial untuk menjamin fitur produk berbasis data dan memiliki standar keamanan tinggi sebelum sampai ke tangan konsumen.
Guna mendukung keberlanjutan produk, aspek model bisnis juga diperkuat GM BMU Januar Muttaqin menyampaikan bahwa pihaknya tengah menyiapkan protokol baru yang sejalan dengan kebijakan instansi di Indonesia, termasuk penguatan ekosistem digital.
“Kolaborasi antara peneliti, universitas, dan pimpinan adalah kunci. Kami membangun sistem berbasis teknologi internet agar model bisnis ini berkelanjutan dan memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi institusi maupun masyarakat,” pungkasnya.
Dengan langkah ini, UB optimis dapat mengubah pandangan masyarakat bahwa bahan yang dianggap tidak berguna, jika diolah dengan sentuhan riset yang tepat, dapat menjadi produk unggulan yang membanggakan di kancah nasional.mut





