Mahasiswa FTAB UB Kenalkan Mesin Pencacah Sampah Berbasis Flywheel di Samaan

Malang,Bhirawa-Mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) Kelompok 45 menghadirkan inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa mesin pencacah sampah organik berbasis flywheel yang terintegrasi dengan drum komposter, Inovasi ini disosialisasikan dan didemonstrasikan kepada warga RW 04 Kelurahan Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

​Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) FTAB UB di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Rini Yulianingsih, STP., MT., Ph.D. dan Prof. Dr. Agustin Krisna Wardani, STP., M.Si. Alat penunjang pengolahan limbah ini kini ditempatkan di wilayah RW 04 yang dipimpin oleh Bambang Eka Adi untuk difungsikan secara berkelanjutan oleh warga.

​Inovasi ini digagas guna menjawab permasalahan timbulan sampah organik rumah tangga di Kelurahan Samaan yang mencapai ±3.575 kg per hari. Selama ini, limbah organik seperti sisa makanan, sayuran, dan daun kering bercampur tanpa dipilah dan langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Hal ini memicu penumpukan, timbulnya bau tidak sedap, hingga potensi berkembangnya hama. Di sisi lain, pengolahan kompos manual dinilai membutuhkan waktu dan tenaga ekstra.

Baca Juga:Mahasiswa FTAB UB Lakukan Inovasi Pemurni Minyak Jelantah di Sumbersari

​Dalam kegiatan sosialisasi, mahasiswa memaparkan pentingnya pemilahan sampah dari sumbernya, penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), hingga mekanisme teknis mesin pencacah.

​Penerapan komponen flywheel (roda gila) pada mesin berfungsi menyimpan energi kinetik rotasi untuk menjaga kestabilan putaran poros pisau. Mekanisme ini membuat proses pencacahan tetap efisien dan hemat tenaga meskipun diberi beban sampah yang bervariasi.

​Secara teknis, mesin tersebut memiliki Kapasitas Kerja Mesin (KKM) mencapai 15,70 kg/jam dan mampu menghasilkan cacahan seragam berukuran sekitar 10 mm. Ukuran tersebut dinilai ideal untuk mempercepat proses dekomposisi aerobik di dalam drum komposter.

​Respon positif ditunjukkan oleh masyarakat setempat. Berdasarkan survei kepuasan, warga menyambut baik teknologi ini pada kriteria kemudahan penggunaan, keamanan, serta efektivitas pengurangan volume sampah. Pengurus RW 04 dan tokoh masyarakat juga berkoordinasi menyusun jadwal pengumpulan sampah organik bergiliran guna menjamin ketersediaan bahan baku.

​Rencananya, produk kompos yang dihasilkan akan dimanfaatkan untuk mendukung fasilitas greenhouse RW 04 serta berpotensi bernilai ekonomi melalui penjualan pupuk organik mandiri.

​Langkah ini turut mendukung ketercapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penekanan emisi gas metana dari pembusukan sampah di TPA. [mut.c]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *