Malang, Bhirawa — Masalah peradangan kulit pada area batang tubuh seperti dada dan punggung (truncal acne) kerap sulit diatasi karena melibatkan kombinasi bakteri dan jamur di area yang luas. Berangkat dari persoalan tersebut, tim mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) sukses merancang inovasi sediaan semprot cair (spray) berbahan dasar ekstrak kulit kakao (Theobroma cacao) dan daun pegagan (Centella asiatica).
Inovasi ini lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE). Tim ini diketuai oleh Fatla Sela Iracahyono (Departemen Teknik Biosistem) bersama anggotanya: Khesya Olivia, Athaya Nur Febriliana, Kristin Angelia (Departemen Ilmu Pangan dan Bioteknologi 2025), serta Clara Zaaky (Departemen Farmasi 2024), di bawah bimbingan Prof. Dr. Agustin Krisna Wardani, S.TP., M.Si., Ph.D.
Ketua Tim, Fatla Sela, menjelaskan bahwa jerawat pada area punggung tidak hanya dipicu oleh bakteri Cutibacterium acnes, tetapi juga sering kali melibatkan jamur Malassezia furfur.
”Kami ingin menciptakan formula yang bisa mengatasi keduanya sekaligus. Kebanyakan produk di pasaran hanya fokus pada bakteri,” ujar Fatla.
Pemilihan kulit kakao didasari oleh jumlahnya yang melimpah—mencapai 75,52 persen dari total berat buah kakao—tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, limbah ini kaya akan senyawa alkaloid dan flavonoid yang mampu merusak membran serta mengganggu metabolisme mikroba.
Sementara itu, daun pegagan ditambahkan untuk memberikan efek sinergis. Kandungan asiaticoside dan madecassoside pada pegagan berperan sebagai anti-inflamasi dan membantu mempercepat regenerasi kulit (skin barrier).
Sediaan Spray Lebih Praktis dan Higienis
Sediaan spray dipilih untuk memudahkan aplikasi pada area punggung yang sulit dijangkau. Berbeda dengan krim atau gel yang cenderung lengket dan membutuhkan kontak tangan langsung, sediaan cair ini lebih higienis, ringan, serta tersebar merata tanpa mengiritasi jerawat yang meradang.
Dosen Pembimbing, Prof. Dr. Agustin Krisna Wardani, mengapresiasi kolaborasi lintas disiplin ilmu yang dihadirkan para mahasiswa.
”Ini contoh bagus berpikir interdisipliner. Mereka melihat limbah dari sisi teknologi pengolahan, memanfaatkan pegagan dari sisi fungsional pangan, lalu memformulasikannya menjadi produk farmasetis,” ungkap Prof. Agustin.
Selain solusi kesehatan kulit, inovasi ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDGs Poin 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) serta SDGs Poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular.
Saat ini, tim mahasiswa UB tengah melanjutkan pengujian tahap akhir terkait optimasi stabilitas produk dan uji iritasi untuk memastikan keamanan sediaan sebelum melangkah ke tahap hilirisasi industri.mut








