Malang, Bhirawa – Memasuki musim penghujan, pengendara dituntut meningkatkan kewaspadaan di jalan raya. Kondisi aspal basah dan genangan air kerap memicu risiko kecelakaan akibat hilangnya daya cengkeram ban. Menariknya, titik paling rawan tergelincir justru terjadi bukan saat hujan deras, melainkan ketika hujan baru mulai turun atau gerimis. Dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fauzan Ammar Putra, ST., MT., menjelaskan fenomena tersebut dipicu oleh tumpukan residu kendaraan di pori-pori aspal selama cuaca panas. Residu berupa sisa bensin dan ceceran oli yang mengering akan terangkat ke permukaan begitu tersiram rintik hujan pertama.
“Campuran air dan minyak ini membentuk lapisan tipis yang menghalangi kontak langsung antara ban dengan aspal. Akibatnya, daya cengkeram menurun drastis. Jalanan paling licin itu justru ketika baru gerimis kecil setelah lama kering,” jelas Fauzan, Senin 2/11.
Melihat tingginya risiko tersebut, Fauzan menekankan pentingnya pemeriksaan rutin kondisi ban sebagai komponen vital keselamatan. Pengendara wajib memastikan ketebalan alur ban masih optimal untuk membuang air, serta memeriksa tekanan angin dan kelenturan karet.
Ia juga menyoroti kebiasaan keliru sebagian pengendara yang mengukir atau mengerik ulang alur ban aus (membatik ban). Tindakan manual tersebut dinilai berbahaya karena kualitas struktur karet yang telah menurun tidak bisa dipulihkan.
“Jangan pernah dikupas secara manual. Kalau alurnya sudah habis dan aus, daya cengkeramnya tidak akan maksimal lagi. Solusi paling aman adalah menggantinya dengan ban baru,” tegasnya.
Selain kesiapan armada, teknik mengemudi turut menjadi penentu keselamatan. Pengendara diimbau menurunkan laju kecepatan guna menghindari aquaplaning atau hydroplaning, yakni kondisi saat ban mengambang di atas lapisan air sehingga setir kehilangan kendali.
Terkait teknik pengereman di lintasan basah, Fauzan menyarankan agar pengendara tidak menginjak atau menarik tuas rem secara mendadak dengan kekuatan penuh. Pengereman sebaiknya dilakukan bertahap (berdenyut) untuk meniru prinsip kerja Anti-lock Braking System (ABS) agar roda tidak terkunci mendadak.
“Pengereman bertahap mencegah ban selip dan terkunci. Jika roda terkunci di jalan licin, kendaraan otomatis tergelincir dan sulit diarahkan,” imbuhnya.
Ia berpesan agar para pengguna jalan senantiasa menjaga jarak aman, menghindari manuver tajam saat melintasi genangan, serta mengontrol kecepatan demi keselamatan bersama di jalan raya. mut






