Jakarta, Bhirawa — Bursa Efek Indonesia (BEI) menerima kunjungan jajaran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang bersama insan pers di Gedung BEI, Jakarta, Rabu 16/9. Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi otoritas pasar modal untuk menegaskan komitmen dalam memperluas sosialisasi serta edukasi investasi yang aman bagi masyarakat.
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, mengungkapkan bahwa pertumbuhan jumlah investor pasar modal mencatatkan lonjakan signifikan. Hingga Agustus, terdapat penambahan sekitar 11 juta investor secara year-to-date (YTD), sehingga total investor di pasar modal Indonesia kini menyentuh angka 31 juta—atau mencakup lebih dari 1% total populasi Indonesia.
”Dari sisi jumlah sudah luar biasa dan ini adalah potensi. Namun, kami dan OJK tidak hanya bicara soal kuantitas. Kami ingin para investor ini aktif bertransaksi, knowledgeable, dan berkualitas,” ujar Iding di hadapan para wartawan.
Ia menjelaskan, pergerakan pasar modal merupakan cerminan dan tolok ukur ekspektasi perekonomian nasional ke depan. Saat ini, terdapat hampir 1.000 perusahaan tercatat (listing) dari berbagai sektor di BEI. Pergerakan harga saham perusahaan-perusahaan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh kinerja internal, tetapi juga dinamika makroekonomi seperti inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah, hingga isu global.
Di sisi lain, pesatnya pertumbuhan investor juga diimbangi dengan kewaspadaan terhadap ancaman finansial ilegal, seperti investasi bodong dan judi online (judol). Praktik-praktik tersebut terbukti telah merugikan masyarakat hingga ratusan triliun rupiah akibat tergiur iming-iming keuntungan cepat tanpa memperhatikan prinsip Legal dan Logis (2L).
Guna membendung dampak negatif tersebut, BEI mengajak media massa untuk terus menjadi mitra strategis dalam menyebarkan literasi keuangan yang tepat. Edukasi publik secara masif dinilai sebagai benteng utama agar masyarakat terhindar dari jeratan investasi ilegal yang mmerugikan.mut












