BI memperkuat literasi dan kesadaran masyarakat, khususnya kaum perempuan,
Kota Malang Bhirawa
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang mengambil langkah proaktif dalam membendung gelombang penipuan berbasis digital yang semakin marak.
Melalui gelaran Kosmonitalk PeKA (Peduli, Kenali, Adukan) pada Jumat (12/12) di Ijen Suites Resort & Convention, BI memperkuat literasi dan kesadaran masyarakat, khususnya kaum perempuan, terhadap keamanan bertransaksi di era digital.
Program PeKA merupakan akronim dari tiga pilar edukasi utama yang ditekankan BI: Peduli terhadap manfaat sekaligus risiko yang melekat pada setiap transaksi digital, Kenali penyelenggara layanan keuangan resmi dan terdaftar, serta Adukan setiap permasalahan transaksi keuangan melalui kanal pengaduan resmi BI.
Deputi Kepala Perwakilan BI Malang, Siti Nurfalinda, menyampaikan bahwa pesatnya digitalisasi memang menawarkan kemudahan, namun di saat yang sama membuka celah lebar bagi kejahatan siber. Modus penipuan pun terus berevolusi, mulai dari pesan WhatsApp palsu hingga pemanfaatan identitas buatan kecerdasan artifisial (AI).
“Kita ingin masyarakat lebih aware. Digitalisasi itu bermanfaat, tapi penipuan juga makin beragam. Ini adalah salah satu upaya untuk memberikan pemahaman menyeluruh kepada masyarakat,”ujar Nurfalinda.
Fokus kegiatan ini secara khusus menyasar peserta perempuan. Nurfalinda menjelaskan bahwa mayoritas transaksi keuangan rumah tangga, termasuk belanja online, dipegang dan dilakukan oleh kaum ibu.
Hal ini menjadikan mereka kelompok yang krusial untuk dibekali wawasan literasi digital yang mumpuni.
“Yang memegang keuangan di rumah itu ibu-ibu. Mayoritas yang melakukan transaksi keuangan itu adalah wanita. Jadi, penting banget mereka paham risiko dan cara aman bertransaksi,” ujarnya.
Nurfalinda juga mengingatkan masyarakat untuk selalu menerapkan prinsip kehati-hatian sebelum melakukan transaksi.
“Pengecekan harus dilakukan secara teliti, baik saat membuka tautan, melakukan pembayaran digital, maupun memindai QRIS,”Imbuhnya.
Ia membeberkan ciri-ciri situs resmi lembaga keuangan yang benar, di antaranya harus menggunakan domain .go.id untuk instansi pemerintah.
Sebagai contoh, bi.go.id adalah situs resmi, sementara domain dengan akhiran lain, seperti bi.co.id, dipastikan palsu. Untuk transaksi menggunakan QRIS, masyarakat diminta untuk selalu mencocokkan nama merchant yang muncul sebelum menyelesaikan pembayaran.
“Saat bayar di toko atau restoran, cek dulu penerimanya benar atau tidak. Simpanlah itu buktinya, kalau nanti ada apa-apa, ini sebagai bukti bahwa saya sudah melakukan transaksi seperti ini,” jelasnya.
BI telah menyiapkan berbagai kanal bagi konsumen yang mengalami masalah transaksi keuangan, seperti Contact Center BI Bicara di nomor (021) 131, atau melalui e-mail bicara@bi.go.id, serta web portal pengaduan resmi BI.
Nurfalinda berharap literasi digital yang diintensifkan ini tidak hanya mendorong perluasan penggunaan layanan keuangan digital, tetapi yang lebih penting adalah membangun kepercayaan dan keamanan bagi seluruh masyarakat.
“Kami ingin digitalisasi semakin meluas, tapi juga di sisi lain, kita mendorong untuk tetap waspada,” pungkasnya.mut





