Pakar Terorisme dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Gonda Yumitro, MA., Ph.D. menjadi pemateri
Malang, Bhirawa
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Malang mengambil langkah proaktif dengan menyelenggarakan diskusi kewaspadaan dini dan penanganan konflik tahun 2025, sebagai upaya pencegahan radikalisme di Kota Malang.
Langkah ini bertujuan untuk mengantisipasi dan menjaga kondusivitas Kota Malang dari ancaman radikalisme dan terorisme.
Kegiatan yang digelar di Hotel Grand Palace Malang, Rabu (26/11) kemarin, ini melibatkan 100 orang peserta yang terdiri dari tokoh masyarakat, akademisi dan mahasiswa.
Plt. Kepala Bakesbangpol Kota Malang, Ali Mulyanto, didampingi oleh Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Bakesbangpol, Ratih Sulistyo, menyampaikan tujuan utama dari kegiatan tersebut adalah meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai radikalisme sehingga mereka dapat melakukan kewaspadaan dini dan antisipasi.
Selain itu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi multi-pihak yang melibatkan masyarakat, akademisi, mahasiswa, dan Organisasi Masyarakat (Ormas) dalam menjaga kondusivitas Kota Malang.
Untuk memastikan langkah-langkah pencegahan berjalan efektif, Bakesbangpol tidak hanya menghadirkan pakar akademis tetapi juga praktisi di lapangan.
Narasumber yang dihadirkan meliputi Pakar Terorisme dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Gonda Yumitro, MA., Ph.D.
Selain itu, turut dilibatkan pemateri dari aparat penegak hukum, yakni Densus 88 dan Polresta Malang, untuk memberikan perspektif intelijen dan penanganan kasus.
Prof. Gonda Yumitro dalam paparannya menegaskan bahwa Malang memiliki potensi besar dimanfaatkan oleh jaringan radikal. Ia menyebut bahwa pelaku utama dalam beberapa kasus yang terkait Malang cenderung bukan warga asli, melainkan orang luar yang memanfaatkan status kota sebagai Kota Wisata dan Kota Pendidikan.
Adapun ciri-ciri awal yang dapat diwaspadai adalah berkurangnya penghormatan terhadap simbol negara, seperti ketidakpedulian terhadap gambar presiden, bendera, atau upacara.
Untuk menangkal ancaman tersebut, Prof. Gonda menekankan pentingnya
Kewaspadaan Level RT: Masyarakat, termasuk tingkat RT, harus mengenal karakter gerakan radikal dan bersikap cepat tanggap.
Masyarakat diimbau untuk curiga boleh, namun jangan langsung menghakimi, demi menghindari polarisasi.
Selain itu, Pemerintah harus membangun kesejahteraan masyarakat, karena faktor kesulitan ekonomi sering dimanfaatkan oleh jaringan teroris sebagai pintu masuk perekrutan.
”Upaya pencegahan disimpulkan harus komprehensif, melibatkan kewaspadaan masyarakat, sinergi stakeholder, serta penanggulangan akar masalah sosial-ekonomi,”tukasnya.mut











