Guru Besar Departemen Kimia FMIPA UB Prof. Akhmad Sabarudin, S.Si., M.Sc., Dr.Sc. memaparkan inovasi alat deteksi dini
Kota Malang, Bhirawa
Fakultas Matematika dan Ilmu engetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB) kembali menggelar kegiatan Ngobrol Pintar Sains FMIPA (Ngopi SAM) yang menghadirkan inovasi riset terbaru dari para ilmuwan kampus. Pada edisi kedua yang digelar di Ruang MC 1.1 FMIPA UB, Jumat (13/3) sore, Guru Besar Departemen Kimia FMIPA UB Prof. Akhmad Sabarudin, S.Si., M.Sc., Dr.Sc. memaparkan inovasi alat deteksi dini penyakit ginjal yang lebih cepat, murah, dan dapat digunakan di berbagai tempat.
Dalam paparannya, Prof. Akhmad Sabarudin menjelaskan bahwa penyakit ginjal merupakan masalah kesehatan serius yang kerap tidak terdeteksi sejak dini. Padahal ginjal memiliki fungsi vital dalam menyaring limbah dari darah. Jika fungsi tersebut menurun, seseorang dapat mengalami nefropati yang berpotensi berkembang menjadi penyakit ginjal kronis hingga gagal ginjal.
Menurutnya, jumlah penderita gagal ginjal di Indonesia yang harus menjalani hemodialisis terus meningkat. Data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan angka penyakit ginjal kronis meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2013. Kondisi ini salah satunya disebabkan keterbatasan akses deteksi dini, sehingga banyak pasien baru mengetahui penyakitnya ketika sudah memasuki tahap serius.
“Jika gangguan ginjal bisa dideteksi lebih awal, perkembangan penyakitnya dapat diperlambat bahkan dicegah,” ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, sejak 2018 tim peneliti yang dipimpinnya mengembangkan alat skrining gangguan ginjal yang sederhana, murah dan portabel. Konsep alat tersebut mirip dengan alat tes kehamilan, namun difungsikan untuk mendeteksi kesehatan ginjal melalui pemeriksaan urin.
Alat ini dirancang untuk mengukur Rasio Albumin-Kreatinin (ACR) dalam urin, yang merupakan indikator penting untuk mengetahui kerusakan ginjal sejak tahap awal. Jika kadar albumin dalam urin meningkat, hal tersebut menjadi tanda bahwa ginjal mulai mengalami gangguan penyaringan.
Berbeda dengan metode laboratorium di rumah sakit yang membutuhkan peralatan mahal dan tenaga ahli, alat yang dikembangkan tim peneliti UB ini cukup menggunakan sampel urin sewaktu tanpa perlu pengumpulan selama 24 jam. Dengan demikian, alat tersebut diharapkan dapat digunakan di fasilitas kesehatan primer hingga daerah terpencil.
Inovasi ini menggunakan teknologi microfluidic paper-based analytical devices (µPADs), yaitu perangkat analitik berbasis kertas yang memiliki saluran mikro untuk mengalirkan sampel urin dan bereaksi dengan reagen kimia tertentu.
Hasil pengujian dapat dilihat melalui perubahan warna pada kertas atau jarak rambatan warna yang terbentuk. Semakin pekat warna atau semakin jauh rambatan warna, maka semakin tinggi kadar zat yang terdeteksi.
Untuk meningkatkan akurasi, tim peneliti menambahkan partikel emas berukuran nano ke dalam reagen kimia. Partikel ini membantu menghasilkan batas warna yang lebih jelas sehingga hasil pengukuran lebih presisi. Selain itu, desain alat juga dikembangkan dengan menambahkan konektor tiga dimensi yang berfungsi mengatur aliran sampel urin agar reaksi kimia berlangsung lebih optimal.
Perangkat inovatif tersebut kemudian dinamakan 3D-µPADs.
“Hasil uji coba terhadap 100 sampel urin pasien di RSSA Malang menunjukkan tingkat akurasi mencapai 93,48 persen dan presisinya sebanding dengan alat standar rumah sakit,” jelasnya.
Tidak berhenti pada tahap tersebut, tim peneliti juga tengah mengembangkan integrasi teknologi machine learning untuk membaca hasil tes secara otomatis. Dengan bantuan kecerdasan buatan, interpretasi hasil pemeriksaan dapat dilakukan secara objektif tanpa bergantung pada penilaian visual manusia.
Teknologi ini akan memanfaatkan algoritma yang mampu mempelajari ribuan data gambar hasil tes sehingga dapat mengklasifikasikan tingkat rasio albumin-kreatinin secara konsisten dan akurat.
Menurut Prof. Sabarudin, integrasi teknologi ini diharapkan menghadirkan sistem skrining ginjal yang memiliki tiga keunggulan utama, yakni hasil yang stabil dan akurat, interpretasi yang objektif, serta penggunaan yang praktis dan portabel.
Ke depan, alat ini diharapkan dapat menjadi bagian dari sistem layanan kesehatan yang lebih prediktif, preventif, dan presisi, sehingga mampu membantu mendeteksi gangguan ginjal lebih awal dan menekan angka gagal ginjal di masyarakat.
Dengan inovasi sederhana berbasis kertas dan partikel emas tersebut, para peneliti UB berharap teknologi ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.mut






