Dorong Riset Berdampak Nyata, UMM Pacu Dosen Hasilkan Inovasi Solutif bagi Industri dan Masyarakat

Kota Malang, Bhirawa-Riset di lingkungan perguruan tinggi dituntut tidak lagi sekadar berorientasi pada pemenuhan luaran publikasi ilmiah di atas kertas. Hasil penelitian akademisi harus hadir menjawab problem riil di lapangan serta memberikan nilai tambah nyata bagi masyarakat maupun sektor industri.

​Penegasan tersebut mengemuka dalam agenda Sosialisasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) 2027 yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Aula BAU UMM, Senin 2/1

​Tim Pakar Penelitian BIMA DPPM Kemdiktisaintek, Prof Ir Candra Wahyu Purnomo ST MEng DEng IPM, menegaskan bahwa skema pengabdian kepada masyarakat pada hakikatnya merupakan wujud hilirisasi atau aplikasi langsung dari riset laboratorium. Oleh sebab itu, program pengabdian wajib dibangun lewat pendekatan kolaboratif lintas disiplin ilmu dan berbasis kebutuhan konkret mitr

​”Pengabdian itu adalah bagian aplikasi hasil riset ke masyarakat, dan pelaksanaannya mutlak membutuhkan kolaborasi,” tegas Candr

​Ia mencontohkan keberhasilan pemanfaatan limbah produksi tahu menjadi produk bernilai ekonomis, hingga pemberdayaan penyandang autisme di Malang melalui hilirisasi rantai produksi cokelat lokal. Formula tersebut membuktikan bahwa riset yang dirancang dari pemetaan masalah riil mampu melahirkan dampak pemberdayaan ekonomi yang berkelanjuta

​Sementara itu, Tim Penyusun Panduan BIMA, Prof Dr Okid Parama Astirin MS, menggarisbawahi pentingnya perencanaan komprehensif agar proposal riset dosen lolos seleksi pendanaan nasional. Aspek krusial yang dinilai mencakup kebaruan (novelty), analisis kesenjangan (gap analysis), peta jalan penelitian, tingkat kesiapterapan teknologi (TKT), metodologi, hingga kesesuaian luara

​”Tidak ada kegiatan apa pun yang berkualitas dan kompetitif jika tidak direncanakan secara matang (well designed),” jelas Oki

​Ia juga menyoroti etika pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam penulisan usulan penelitian. Perangkat AI hanya diperkenankan sebatas alat bantu perbaikan tata bahasa atau penataan struktur referensi, bukan untuk memanipulasi atau merekayasa data penelitian ilmia

​Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor IV Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM, Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD, menyampaikan bahwa arah kebijakan ini terintegrasi penuh dengan program UMM Excellent Solution Center (ESC), khususnya pilar Industry Solution Partne

“Riset harus berangkat dari real problem. Melalui kepakaran dosen yang terarah, inovasi kampus diharapkan menjadi mitra pemecah kebuntuan persoalan yang dihadapi industri maupun masyarakat,” pungkas Salis.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *