Malang, Bhirawa –Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Uun Zulfiana, S.Psi., M.Psi, meminta agar Guru tidak terburu-buru memberikan label atau vonis kepada peserta didik yang menunjukkan perilaku maupun kemampuan berbeda di kelas, mengenali karakteristik serta kebutuhan khusus anak sejak dini jauh lebih penting agar proses pembelajaran dapat disesuaikan secara inklusif dan tepat sasaran.
Hal tersebut disampaikan Uun Zulfiana, dalam Workshop Guru Inklusi bertema “Pendampingan Psikologis Peserta Didik Berkebutuhan Khusus” yang berlangsung di Aula Lantai 9 GKB 4 UMM, Sabtu (8/8). Kegiatan yang diikuti 113 guru dari jenjang PAUD hingga SMA ini digelar sebagai bagian dari rangkaian Road to Milad ke-41 Fakultas Psikologi UMM.
Uun menjelaskan bahwa kemampuan mendeteksi kebutuhan khusus peserta didik merupakan langkah awal dalam menciptakan sistem pembelajaran yang inklusif. Menurutnya, kebutuhan khusus tidak hanya terbatas pada kondisi fisik atau disabilitas tertentu, melainkan mencakup aspek kognitif, perkembangan, emosi, perilaku, sosial, hingga kemampuan belajar.
”Guru tidak perlu terburu-buru memberikan label kepada anak ketika menemukan sesuatu yang berbeda. Yang paling utama adalah mengenali tanda-tandanya, memahami kebutuhannya, lalu memberikan penyesuaian yang pas. Diagnosis formal tetap menjadi kewenangan tenaga profesional,” tegas Uun.
Baca Juga: KKN Internasional UMM: Bentuk YALORA.HUB untuk Ciptakan Young Story Leaders di Yala Thailand
Ia menambahkan, deteksi dini yang dilakukan guru maupun orang tua di rumah sangat berharga sebagai basis informasi penanganan lanjutan. Namun, proses identifikasi awal di sekolah tersebut tidak boleh disamakan dengan diagnosis psikologis.
”Ketika anak menunjukkan kemampuan di luar rata-rata usianya, jangan langsung dianggap sebagai kekurangan. Guru perlu melihat kebutuhan anak tersebut dan menyesuaikan metode pembelajarannya. Bisa jadi yang perlu diubah bukan anaknya, melainkan cara kita mengajar,” lanjutnya.
Penyesuaian pembelajaran yang dimaksud dapat meliputi ragam metode mengajar, gaya belajar, hingga modifikasi kurikulum dan standar penilaian sesuai kondisi masing-masing siswa.
Dalam kesempatan yang sama, pakar psikologi dan terapis ABK, Masfuukhatur Rokhmah, M.Psi., Psikolog, memaparkan strategi pendampingan psikologis serta kebijakan pendidikan inklusif di sekolah. Ia menekankan pentingnya sinergi lintas pihak agar pendampingan dapat berjalan optimal.
”Pendampingan peserta didik berkebutuhan khusus harus dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan keterlibatan anak, guru, orang tua, dan lingkungan sekolah,” jelas Masfuukhatur dalam sesi yang diisi dengan diskusi dan roleplay interaktif tersebut.
Sementara itu, Dekan Fakultas Psikologi UMM, Dr. Rr. Siti Suminarti Faassikhah, M.Si., menyampaikan bahwa workshop ini merupakan wujud komitmen dan pengabdian nyata kampus terhadap dunia pendidikan, khususnya menjawab aspirasi para guru BK dan kepala sekolah di Malang Raya serta Jawa Timur.
”Fakultas Psikologi UMM terus berkiprah untuk masyarakat pendidikan dengan menghadirkan layanan serta ruang kolaborasi yang relevan dengan tantangan guru di lapangan,” pungkasnya. mut






