Malang, Bhirawa– Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dimanfaatkan untuk membicarakan Isu strategis mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Nilai-nilai Pancasila oleh Program Doktoral Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertema “Strategi Penguatan Nilai-Nilai Pancasila dan Cinta Tanah Air di Tengah Potensi Masyarakat Terbelah”, Sabtu (15/8), di GKB IV Kampus 3 UMM.
FGD ini menghadirkan tokoh lintas agama serta pemerhati sosial untuk merumuskan langkah konkret dalam mencegah potensi konflik horizontal di masyarakat.
Sekjen Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB), Pendeta David Tobing, mengibaratkan kondisi sosial masyarakat saat ini bagaikan rumput kering yang rentan tersulut provokasi. Menurutnya, pemantik kecil saja bisa memicu riak besar jika tidak diantisipasi dari akar rumput.
”Indonesia hari-hari ini seperti taman rumput yang sedang kering, gampang sekali terbakar. Satu pemantik kecil saja sudah dapat membuat begitu banyak huru-hara dan ujung-ujungnya korban jiwa,” ujar Pendeta David Tobing.
Ia menegaskan, momen peringatan 17 Agustus harus dimanfaatkan oleh para tokoh agama dan masyarakat untuk menjadi jembatan perdamaian serta menyebarkan kabar baik terkait pentingnya nilai kemanusiaan.
Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Mufidah dari Perempuan Antar Umat Beragama (PAUB) menyoroti pentingnya keadilan sosial sebagai pijakan persatuan. Ia menilai persatuan mustahil terwujud jika kelompok rentan dan perempuan masih menghadapi diskriminasi maupun kekerasan.
”Di ulang tahun Indonesia yang ke-81, ternyata masih menangis. Indonesia pada saat ini adalah dari sakti menjadi sakit,” ungkap Prof. Mufidah.
Ia menambahkan, merawat kebhinekaan harus berjalan selaras dengan pemenuhan rasa aman dan keadilan bagi seluruh lapisan warga negara.
Sementara itu, Pengamat dari Lembaga Analisis Politik dan Otonomi Daerah (LAPOLDA), Dr. George Da Silva, menekankan pentingnya transparansi komunikasi publik serta jaminan kebebasan berpendapat. Menurutnya, penyempitan ruang diskusi justru berpotensi memicu dinamika internal yang memperkeruh suasana.
”Potensi perpecahan adalah sumber dari dinamika internal ruwet yang diciptakan kita sendiri. Langkah-langkah ini dapat terhindar apabila kita menciptakan komunikasi yang terbuka, bukan dengan membatasi ruang diskusi masyarakat,” terang Dr. George.
Melalui agenda ini, Program Doktoral Sosiologi UMM menegaskan bahwa menjaga kebhinekaan merupakan tanggung jawab kolektif. Dialog lintas kelompok, komunikasi terbuka, serta penegakan keadilan sosial menjadi kunci agar keberagaman tetap menjadi kekuatan utama bangsa Indonesia.mut












