Mahasiswa CoE BIPA UMM Kenalkan Budaya Nusantara di Thailand, Padukan Bahasa, Ecoprint hingga Tumpeng

Malang, Bhirawa-Pengenalan bahasa dan budaya Nusantara di panggung internasional terus digencarkan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebanyak lima mahasiswa Program Center of Excellence (CoE) Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA)/Diplomasi Bahasa UMM sukses mengenalkan identitas Indonesia di Srinakharinwirot University, Bangkok, Thailand.

​Kelima mahasiswa tersebut adalah L. Dela Fimeta, Desvita Caren, Ilham Amanullah, Fatma Anggraini, dan Devy Putri Susilo. Terhitung sejak 17 Agustus hingga 2 Oktober 2026, mereka menjalankan misi akademik sekaligus diplomasi kebudayaan yang mengombinasikan pengajaran tata bahasa dengan pengalaman praktik langsung.

​Selain mengampu kelas Bahasa Indonesia dan menyusun modul pembelajaran interaktif, para delegasi UMM tersebut menggelar lokakarya (workshop) batik ecoprint. Melalui media berbahan dasar alami itu, mahasiswa asal Thailand diajak mempraktikkan proses perintangan warna dan cetak motif daun khas kerajinan Indonesia secara langsung.

​Kekayaan tradisi kuliner tanah air turut dihadirkan lewat praktik membuat nasi tumpeng lengkap dengan filosofi penyajiannya. Melalui medium kuliner dan kriya lokal, pengenalan kosakata serta ungkapan percakapan dinilai lebih kontekstual sekaligus mudah diresapi oleh penutur asing.

​Perwakilan mahasiswa, L. Dela Fimeta, menuturkan bahwa pendekatan kultural sangat efektif memangkas kendala berbahasa. Kendati demikian, keragaman tingkat pemahaman bahasa para peserta tetap menuntut metode penyampaian yang adaptif dan komunikatif.

​”Tantangan utamanya tentu ada pada perbedaan bahasa dasar serta pemahaman mahasiswa Thailand yang bervariasi. Karena itu, cara penyampaian materi harus disesuaikan agar tetap lugas dan mudah dicerna, sembari menjembatani perbedaan kultur sehari-hari,” tutur Dela.

​Program pertukaran ini tidak sekadar memperluas wawasan keilmuan dan kompetensi pedagogik mahasiswa di lingkungan global, melainkan juga membuktikan bahwa diplomasi bahasa dapat diwujudkan melalui ranah keseharian yang dekat dan memikat.

​Dela berharap kiprahnya di Negeri Gajah Putih ini menjadi modal berharga dalam memperluas jangkauan internasionalisasi Bahasa Indonesia ke berbagai belahan dunia.

​”Pengalaman ini menjadi pijakan penting bagi kami. Harapan ke depan, bekal ini dapat terus berlanjut demi mendukung cita-cita saya menjadi pengajar profesional Bahasa Indonesia di mancanegara,” pungkasnya.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *