Kreativitas Manusia Tetap Tidak Akan Tergantikan oleh AI

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto,

Kota Malang, Bhirawa

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kian masif belakangan ini tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi industri kreatif. Meski AI mampu memproduksi karya dalam hitungan menit, namun teknologi tersebut diyakini tidak akan pernah bisa menggantikan peran seniman seutuhnya karena keterbatasan rasa dan intuisi.

​Hal tersebut ditegaskan oleh Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto, saat menjadi pembicara dalam agenda “Glow Innovation Talks” yang digelar Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) Universitas Brawijaya (UB) di Gedung Auditorium UB, Rabu (13/5).

​”Teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu dalam proses kreatif. Inti utama sebuah karya seni tetap berasal dari rasa, pengalaman, intuisi, dan hati manusia. AI itu tidak punya hati, padahal kekuatan seni justru terletak pada perasaan senimannya,” ujar musisi kenamaan tersebut di hadapan ratusan peserta.

​Yovie menceritakan pengalamannya saat mencoba mendengarkan lagu hasil gubahan AI. Meski secara aransemen terdengar presisi dan bagus, namun ia mengaku cepat merasa bosan. Menurutnya, ada kekosongan emosional yang tidak bisa dihadirkan oleh mesin secerdas apapun.

​”Setelah diputar lima kali, saya bosan. Itu karena AI tidak bisa menciptakan rasa. Maka, seniman harus mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai emosionalnya,” tambahnya.

​Selain soal rasa, Yovie juga mengingatkan para praktisi kreatif untuk waspada terhadap aspek Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dalam penggunaan AI. Mengingat data yang digunakan sistem AI kerap bersumber dari karya yang memiliki hak cipta, regulasi ketat mulai dibahas di berbagai negara, termasuk Eropa.

​Kolaborasi Hilirisasi Riset

Di sisi lain, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi UB, Prof. Andi Kurniawan, menyebut bahwa Indonesia kini berada di persimpangan jalan dalam menghadapi bonus demografi dan transformasi digital.

​”Tantangan ini harus dijawab dengan penguatan riset dan kolaborasi lintas sektor. Kita tidak bisa bekerja sendiri. Perguruan tinggi harus memastikan hasil penelitiannya memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui inovasi,” jelas Prof. Andi.

​Senada, Direktur DIKST UB, Mohammad Iqbal, menjelaskan bahwa kegiatan Glow Innovation Talks ini merupakan bagian dari kerja sama strategis antara UB dengan PT Martina Berto Tbk (Martha Tilaar). Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan riset di bidang wellness dan health solution.

​”Agenda ini adalah bukti konkret kolaborasi peneliti kami dengan industri. DIKST UB akan terus mendorong terciptanya ekosistem inovasi yang mempertemukan akademisi dengan dunia usaha, agar hasil riset kampus tidak berhenti di laci, tapi benar-benar bisa dimanfaatkan luas oleh masyarakat,” pungkas Iqbal.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *