Peminat Naik Tiga Kali Lipat, UM Matangkan Persiapan Mahasiswa IUP Tembus Kampus Luar Negeri

Malang, Bhirawa– Universitas Negeri Malang (UM) terus memperkuat kesiapan mahasiswanya untuk bersaing di kancah global. Melalui program International Undergraduate Program (IUP), UM membekali mahasiswa dengan strategi dan panduan studi ke luar negeri lewat seminar bertajuk “Getting Ready for Studying Abroad” di Aula Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) A20 UM, Rabu (28/10).

​Kepala Subdirektorat Layanan Akademik UM, Taufik Ihsan Slamet, S.Pd., M.Pd., Ph.D., mengungkapkan bahwa antusiasme terhadap program kelas internasional ini menunjukkan lonjakan signifikan. Hingga tahun ini, jumlah pendaftar IUP UM tercatat meningkat hingga tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

​Menurut Taufik, program IUP memang didesain secara terstruktur untuk membuka jalan bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi bereputasi internasional maupun meniti karier di perusahaan multinasional.

​“Melalui program IUP, mahasiswa diharapkan memiliki jalur, arahan, dan tahapan yang jelas untuk mengejar peluang akademik maupun karier di luar negeri,” ujar Taufik di sela-sela kegiatan.

​Hadir sebagai narasumber, Branch Director SUN Education Group, Susan Tjong, memaparkan bahwa esensi menempuh pendidikan di luar negeri jauh melampaui sekadar mengejar ijazah. Mahasiswa berpeluang memperluas wawasan global, membangun jejaring profesional internasional, memahami ragam budaya, hingga beradaptasi dengan lompatan teknologi.

​“Tujuan studi di luar negeri bukan hanya mendapat sertifikat, nilai, atau IPK. Ada banyak hal berharga yang bisa diperoleh, mulai dari jejaring, wawasan luas, hingga pengalaman global yang sangat menunjang masa depan karier,” jelas Susan.

​Susan merinci beberapa komponen penting yang wajib disiapkan sejak dini sebelum mendaftar ke perguruan tinggi luar negeri. Komponen tersebut mencakup capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), sertifikasi kemahiran berbahasa Inggris seperti International English Language Testing System (IELTS), surat rekomendasi, personal statement, serta dokumen keimigrasian berupa paspor.

​Ia menyebutkan, skor IELTS pada rentang 6,0 hingga 6,5 lazimnya menjadi ambang batas minimum untuk jenjang sarjana. Kendati demikian, standar tersebut tetap bergantung pada ketentuan masing-masing kampus, program studi, dan regulasi negara tujuan.

​Selain kemampuan bahasa, Susan menekankan pentingnya penyusunan personal statement secara komprehensif. Dokumen ini merefleksikan motivasi memilih program studi dan universitas tujuan, rekam jejak akademik, kepemimpinan organisasi, hingga proyeksi rencana karier di masa depan. Untuk program sarjana, pengalaman kerja umumnya bersifat opsional, kecuali pada peminatan tertentu yang mewajibkannya.

​Langkah strategis UM ini turut menjadi wujud nyata kontribusi kampus terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas lewat pemerataan akses informasi pendidikan berstandar internasional. Di samping itu, penguatan kompetensi global ini sejalan dengan SDG 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi guna mencetak lulusan yang siap bersaing di pasar kerja dunia.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *