Malang, Bhirawa
Kesenjangan kemampuan literasi digital berdasarkan gender menjadi perhatian serius dunia pendidikan. Guna menjawab tantangan tersebut, SMAN 1 Turen Kabupaten Malang terpilih sebagai salah satu pelopor pengembangan digital skill bagi pelajar perempuan, melalui kolaborasi strategis antara UNICEF, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dan Dinas Pendidikan.
Kepala SMAN 1 Turen, Agus Hariyanto mengungkapkan bahwa program ini dilatarbelakangi oleh hasil analisis UNICEF dan ITS yang menunjukkan bahwa penguasaan keterampilan digital saat ini masih didominasi oleh pelajar laki-laki. Padahal, secara kuantitas, jumlah pelajar perempuan di sekolah menengah sangat signifikan.
”Di SMAN 1 Turen saja, perbandingan jumlah siswa kelas 10 antara laki-laki dan perempuan adalah 1 dibanding 3. Sementara di kelas 11 rasionya 1 dibanding 2. Ini adalah potensi besar yang harus dibekali kemampuan digital yang mumpuni agar tidak ada lagi dikotomi bahwa teknologi hanya milik laki-laki,” ujar Agus Hariyanto saat dikonfirmasi, Selasa (7/4).
Menurut Agus, keterlibatan SMAN 1 Turen dalam program internasional ini dimulai sejak pertemuan di Tangerang beberapa waktu lalu. Dari Jawa Timur, tercatat SMAN 1 Turen bersama SMAN 1 Tumpang dan SMAN 1 Pagak yang diundang untuk mewakili wilayah ini dalam pembinaan digital skill skala nasional.
Lebih lanjut, pengembangan keterampilan digital ini dinilai sangat selaras dengan visi kelembagaan SMAN 1 Turen yang tengah menuju sekolah berbasis pariwisata. Agus menekankan bahwa penguasaan teknologi digital akan menjadi instrumen vital dalam mengembangkan sektor pariwisata di masa depan.
”Visi kami adalah sekolah berbasis pariwisata. Dengan adanya digital skill, anak-anak didik kami, terutama siswi putri, dapat mengakselerasi potensi pariwisata melalui platform digital. Ini sangat tepat sasaran,” imbuhnya.
Program yang didukung oleh jejaring internasional dari Australia hingga Bangkok ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri pelajar perempuan dalam mengeksplorasi dunia teknologi. Agus mengakui, selama ini tantangan berat memang ada pada minat siswi yang cenderung lebih rendah dibanding siswa laki-laki dalam hal teknis digital.
”Alhamdulillah, saat ini trennya mulai bergeser. Anak-anak perempuan kami sudah mulai banyak yang bersemangat untuk belajar dan siap meng-update kemampuan mereka. Kami sangat berterima kasih kepada UNICEF, ITS, dan Dinas Pendidikan yang telah memfasilitasi sekolah kami untuk berkembang sesuai dengan tantangan zaman,” pungkasnya. mut











