Perkuat Kopi Rakyat Berketahanan Iklim

Konsorsium CiCoFest Garap Riset Strategis di Jember dan Banyuwangi

Rakornas Hibah Penelitian BIMA yang digelar di Universitas Ibn Khaldun Bogor

Bogor, Bhirawa

Konsorsium riset kopi nasional, Community of Climate Resilient of Nusantara Coffee (CiCoFest Coffee Indonesia), tancap gas menyusun agenda strategis tahun 2026. Melalui Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Hibah Penelitian BIMA yang digelar di Universitas Ibn Khaldun Bogor, konsorsium yang dimotori Universitas Jember (Unej) ini menegaskan komitmennya dalam memperkuat eksistensi kopi rakyat yang ramah iklim dan berkelanjutan.

​Ketua Konsorsium CiCoFest, Dr. Elida Novita, S.TP., M.T., IPM., menyatakan bahwa fokus utama mereka adalah mengorkestrasi kolaborasi agar kopi rakyat tidak hanya tumbuh subur, tetapi juga mampu menyejahterakan petani melalui rantai pasok yang adil dan transparan.

​”Kami hadir untuk memastikan kopi rakyat tetap lestari di tengah tantangan perubahan iklim. Targetnya adalah terciptanya rantai pasok yang tertelusur (traceable) dari hulu hingga hilir,” ujar Dr. Elida yang juga dosen Teknik Pertanian Universitas Jember tersebut.

Sepanjang tahun 2025, CiCoFest telah menjadikan Jember dan Banyuwangi sebagai ‘laboratorium hidup’. Di Gombengsari, Banyuwangi, riset menunjukkan hasil yang mencengangkan. Kawasan agroforestri kopi seluas 371 hektare di sana mampu menyerap karbon sebesar 2.178,44 ton per hektare. Tak hanya itu, nilai ekonomi jasa ekosistemnya—termasuk air bersih dan ekowisata—mencapai Rp 1,64 miliar per tahun.

​Sementara di Desa Sidomulyo, Jember, riset menyoroti sisi sosial ekonomi. Meski memiliki modal sosial yang sangat kuat (indeks 81,01), para petani kopi masih terkendala infrastruktur. “Akses transportasi menuju kebun menjadi titik lemah yang sensitif. Ini butuh perhatian serius pemerintah daerah jika ingin produktivitas kopi meningkat,” tambahnya.

Riset ini tidak main-main. Tim peneliti menggunakan teknologi drone untuk pemetaan spasial guna menghitung cadangan karbon secara akurat. Selain itu, pendekatan ekonomi sirkular mulai diterapkan agar limbah kopi kembali memberikan nilai ekonomi bagi petani.

​Dukungan penuh pun mengalir dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember. Dekanat FTP UNEJ berkomitmen memfasilitasi workshop, penguatan desa binaan perhutanan sosial, hingga pelatihan teknologi pascapanen bagi masyarakat.

Untuk tahun depan, CiCoFest yang beranggotakan akademisi dari Unpad, Universitas Borneo Tarakan, dan Universitas Teuku Umar ini telah menyepakati empat agenda besar. Di antaranya adalah perumusan model ekowisata kopi berkelanjutan dan penyelesaian Policy Brief Kopi Nusantara sebagai rujukan kebijakan pemerintah.

​”Kami berharap model Kopi Nusantara berketahanan iklim berbasis perhutanan sosial ini bisa diduplikasi di seluruh Indonesia,” pungkas Dr. Elida.mut

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *