Malang, Bhirawa — Universitas Ma Chung terus meneguhkan perannya tidak hanya di bidang akademis, tetapi juga dalam pelestarian budaya dan penyelamatan sejarah lokal. Komitmen ini tampak nyata lewat rangkaian kegiatan akhir pekan yang memadukan penyaluran beasiswa, peresmian museum sejarah, atraksi budaya, hingga pemberian apresiasi kepada insan pers.
Salah satu wujud dukungan pendidikan diwujudkan melalui penyerahan beasiswa senilai total Rp25 juta kepada lima mahasiswa Program Studi Mandarin Universitas Madiun. Selain bantuan dana pendidikan, Universitas Ma Chung juga menerima pasokan buku referensi untuk melengkapi pusat pembelajaran bahasa Mandarin dan budaya Tiongkok di lingkungan perpustakaan kampus.
Perwakilan Universitas Ma Chung, Wawan, menyampaikan bahwa agenda kali ini dirancang untuk memberi dampak konkret bagi dunia pendidikan sekaligus membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat umum.
“Beliau tidak hanya hadir membuka acara, tetapi juga memberikan beasiswa kepada lima mahasiswa Universitas Madiun dari Prodi Mandarin dengan total Rp25 juta,” tutur Wawan saat ditemui di sela kegiatan.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, perhelatan ini digelar penuh sepanjang Sabtu dan Minggu guna mengakomodasi antusiasme warga. Penyelenggara memfasilitasi publik yang ingin menikmati akhir pekan dengan memadukan olahraga pagi, wisata kuliner, pagelaran seni barongsai dan komunitas lokal, hingga penyediaan pos layanan pemeriksaan kesehatan gratis.
Sorotan utama dalam rangkaian acara tahun ini tertuju pada peluncuran museum yang mengangkat rekam jejak Sekolah Ma Chung periode 1946–1965. Selama puluhan tahun, arsip maupun dokumentasi mengenai eksistensi lembaga pendidikan bersejarah di Kota Malang ini belum terpetakan secara komprehensif.
Melalui riset mendalam, tim dosen Universitas Ma Chung berhasil menghimpun serpihan bukti sejarah yang sebelumnya tercecer di tangan kolektor maupun arsip privat keluarga. Rapor lawas, peta kota zaman dulu, foto dokumentasi, dan arsip penting lainnya kini telah dibukukan serta dipamerkan ke publik.
“Data-data itu awalnya tersebar, ada di tangan kolektor dan milik pribadi. Kami kumpulkan kembali agar memiliki historiografi yang utuh,” imbuh Wawan.
Langkah penyelamatan dokumen sejarah ini menuai apresiasi dari kalangan akademisi, mengingat kajian historiografi sekolah era pascakemerdekaan di Malang tergolong masih minim diteliti secara mendalam.
Tidak ketinggalan, Universitas Ma Chung menggelar ajang Media Award sebagai wujud penghormatan bagi para jurnalis dan institusi pers. Penghargaan ini mencakup ragam karya jurnalistik, mulai dari artikel mendalam, karya foto, hingga laporan audio-visual dari media cetak, televisi, radio, maupun siber.
Wawan menegaskan, di tengah masifnya peredaran informasi di media sosial, kerja jurnalistik yang mengedepankan verifikasi dan kedalaman tetap menjadi pilar utama edukasi publik.
“Pengaruh media sangat besar untuk menjangkau masyarakat luas. Media sosial mungkin unggul dalam kecepatan, tetapi untuk laporan yang berkualitas, konsisten, dan mendalam, peran karya jurnalistik tetap tidak tergantikan,” pungkasnya.mut











