Prof Ani Budi Astuti : Pakar Statistika UB Ubah Kompleksitas Data Jadi Solusi Bagi Masyarakat

Malang, Bhirawa– Peran ilmu statistika di era kecerdasan buatan kini tidak lagi sekadar berkutat pada olah angka dan rumus di atas kertas. Lebih dari itu, penguasaan data terbukti menjadi instrumen strategis dalam merumuskan kebijakan, melahirkan inovasi, dan menjawab persoalan riil masyarakat.​Penegasan tersebut disampaikan akademisi sekaligus Guru Besar Departemen Statistika Fakultas Sains dan Teknologi Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Ani Budi Astuti, M.Si., dalam forum Ngopi Sam  Alumni Talk bertajuk “Data, Inovasi, dan Dampak Nyata”, Sabtu 31/10

​Alumni Statistika UB angkatan 1991 ini menekankan bahwa data di sekitar kehidupan harus mampu diekstraksi menjadi wawasan (insight) hingga berujung pada keputusan atau aksi nyata.

​”Statistika bukan hanya menghitung, melainkan membantu kita mengambil keputusan yang lebih masuk akal berdasarkan ketidakpastian,” tegas Prof. Ani di hadapan para peserta.

​Menapaki rekam jejak akademiknya, Prof. Ani memulai pengabdian sebagai dosen di almamaternya sejak 1992 usai menuntaskan studi sarjana. Ia kemudian memperdalam keilmuan magister di Statistika Terapan IPB (1997) dan meraih gelar doktor di ITS (2017). Baginya, karier akademik merupakan rangkaian proses belajar berkesinambungan dan keberanian menghadapi dinamika teknologi.

​Evolusi riset yang ia geluti pun terus bertransformasi. Dari awalnya menggunakan metode klasik seperti korelasi dan regresi, kini merambah pemodelan lanjutan seperti Bayesian, spasial, panel, hingga integrasi kecerdasan buatan (Machine Learning dan Neural Network).

​Riset-riset tersebut langsung diterapkan untuk memecahkan persoalan lintas sektor. Pada sektor kesehatan, Prof. Ani merancang pemodelan risiko Diabetes Melitus menggunakan Bayesian mixture model di Kota Malang, serta pemetaan prevalensi stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan model spasial-multilevel sebagai acuan prioritas intervensi pemerintah.

​Di bidang lingkungan dan iklim, ia mengombinasikan pemodelan spasial-temporal Bayesian guna memproyeksikan risiko banjir dan pola curah hujan bulanan yang berfungsi sebagai sistem peringatan dini bencana. Sementara di sektor ekonomi, analisisnya mencakup fluktuasi inflasi antarprovinsi, volatilitas IHSG melalui Bayesian IGARCH, hingga pemodelan pengaruh literasi keuangan terhadap kesejahteraan masyarakat.

​Hilirisasi riset tersebut tidak berhenti pada tataran jurnal bereputasi atau penerbitan buku rujukan ilmiah semata. Pengabdian langsung diterjunkan ke akar rumput lewat penguatan literasi data, pendampingan UMKM, hingga pengembangan sistem tata kelola digital desa seperti Smart Village, E-ProDeskel, dan SICAD.

​Terkait pengembangan inovasi dan iklim kewirausahaan bagi generasi muda, ia mengingatkan pentingnya pendekatan problem-first—yakni menyelami akar kebutuhan pengguna sebelum merakit solusi atau prototipe. Integritas riset berupa kualitas data, keadilan model tanpa bias, dan perlindungan privasi harus selalu dijunjung tinggi.

​”Data yang baik memang membuka banyak kemungkinan, namun manusia yang peduli, berani mencoba, dan tekun menindaklanjuti data tersebutlah yang pada akhirnya mampu menciptakan perubahan nyata,” pungkasnya. mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *