Malang, Bhirawa — Limbah botol plastik di Kampung Biru Arema (KBA) Kota Malang kini tidak lagi menjadi masalah lingkungan semata. Tangan dingin Ahmad Zaipan Rifa’i, mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil mengolah limbah tersebut menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi lewat mesin pencacah dan pelebur plastik.
Inovasi ini digagas Zaipan setelah mencermati perkembangan pariwisata Kota Malang yang masih didominasi daya tarik visual semata. Pria yang juga menjabat Duta Wisata Kota Malang ini menilai, 23 kampung tematik di Kota Malang—khususnya di kawasan Kecamatan Klojen—memiliki potensi besar jika dipadukan dengan konsep education tourism.
“Kami ingin menciptakan wisata edukasi yang interaktif. Langkah ini menjadi sarana mengubah visual tourism menjadi education tourism melalui pemanfaatan mesin pencacah plastik, yakni mengolah kembali sampah menjadi karya,” ujar mahasiswa angkatan 2023 tersebut, Jumat (4/9).
Mesin ini dikembangkan melalui riset mendalam bersama dosen Teknik Industri UMM, ketua program studi, serta melibatkan pihak ketiga untuk pengerjaan teknisnya. Proses pembuatan memakan waktu sekitar satu bulan, mulai 15 Juni hingga 15 Juli 2026, dengan menelan anggaran sekitar Rp7,15 juta.
Cara kerja alat ini terbilang praktis. Botol plastik yang dimasukkan akan dicacah menjadi serpihan kecil, lalu dipanaskan dan dilebur menggunakan cetakan khusus hingga membentuk lembaran atau pola tertentu. Material hasil leburan ini kemudian dikreasikan warga setempat menjadi aneka suvenir, seperti tatakan gelas dan gantungan kunci khas Kampung Biru Arema.
Dorong Ekonomi Warga dan Wisata Edukasi
Zaipan menegaskan, selain menekan volume limbah plastik, kehadiran mesin dengan fungsi ganda (mencacah dan melebur) ini ditujukan untuk membuka peluang usaha baru bagi masyarakat lokal.
“Saya ingin inovasi ini menjadi peluang ekonomi baru bagi warga Kampung Biru Arema agar mereka bisa mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomis yang siap dijual kepada wisatawan,” tambahnya.
Masyarakat KBA menyambut positif program pemberdayaan ini. Warga berharap keberadaan mesin pengolah sampah dapat memperkuat daya tarik wisata kampung sekaligus membuka sumber penghasilan tambahan.
Inovasi berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat ini juga menjadi bagian dari program kerja Zaipan dalam ajang Pemilihan Duta Wisata Raka Raki Jawa Timur 2026. Ke depan, konsep kolaborasi antara mahasiswa, kampus, dan masyarakat ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai kampung wisata lainnya di Jawa Timur.mut












