UB dan Pemkab Trenggalek Lepas 1.300 Tukik, Dorong Riset Pesisir dan Ekowisata Berkelanjutan

Trenggalek, Bhirawa- Universitas Brawijaya (UB) bersama Pemerintah Kabupaten Trenggalek memperkuat komitmen pelestarian ekosistem pesisir melalui konservasi penyu di Pantai Taman Kili-Kili, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul. Langkah konkret ini ditandai dengan pelepasan sekitar 1.300 ekor tukik ke laut lepas pada Kamis (19/8).

​Aksi pelepasan tukik yang melibatkan akademisi, pemerintah daerah, dan kelompok masyarakat ini sekaligus meresmikan pengembangan riset berbasis sains melalui pembangunan Living Laboratory (Laboratorium Hidup) biodiversitas pesisir di kawasan tersebut.

​Rektor UB, Prof. Widodo, menjelaskan bahwa Living Laboratory dirancang sebagai ruang riset terbuka untuk mendukung pemerintah daerah dan warga lokal dalam menjaga ekosistem.

​”Ke depan, kegiatan ini terus ditingkatkan melalui pembentukan Living Laboratory, khususnya yang berfokus pada keanekaragaman hayati pesisir,” ujar Prof. Widodo.

Baca Juga ;Mahasiswa UB Ciptakan ADAPT-V: Rompi Pintar Berbasis AI dan IoT untuk Meredakan Tantrum Anak Autis

​Pantai Taman Kili-Kili dipilih lantaran menjadi lokasi pendaratan penyu bertelur yang konsisten setiap bulan April hingga September, sehingga sangat strategis untuk riset keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.

​Edukasi Masyarakat dan Dampak Ekonomi

​Ketua Pelaksana, Dr. Fuad, mengungkapkan bahwa pendampingan UB bersama Pemkab Trenggalek dan warga lokal di Taman Kili-Kili telah berjalan sejak 2010. Bentuk keterlibatan akademisi mencakup praktik kerja lapangan, penelitian multidisiplin, hingga penyediaan sarana laboratorium terbuka.

​”Tujuan akhirnya melestarikan biodiversitas di sana. Bukan hanya penyu, tetapi juga biodiversitas lainnya,” kata Fuad.

​Dari sisi teknis, Perwakilan Pusat Studi Pesisir dan Kelautan FPIK UB, Zulkisam Pramudia, memastikan seluruh tukik yang dilepas telah melewati pemeriksaan fisik dan morfologi untuk menjamin kesehatannya.

​Zulkisam menambahkan, program konservasi panjang ini sukses mengubah pola pikir masyarakat. Warga yang dulunya mengambil dan mengonsumsi telur penyu, kini berbalik menjadi kelompok aktif pelindung satwa yang membantu proses penyelamatan hingga penetasan.

​”Konservasi tidak bisa hanya melihat aspek lingkungan tanpa memperhatikan ekonomi. Potensi ke depan dikembangkan melalui ekowisata, edukasi, UMKM, dan produk kreatif pesisir agar masyarakat mendapat manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” jelas Zulkisam.

​Pengembangan kawasan riset terbuka ini diharapkan terus memperoleh dukungan kebijakan dan anggaran dari Pemkab Trenggalek, sehingga Pantai Taman Kili-Kili mampu menjadi pusat pembelajaran biodiversitas pesisir yang memadukan kepentingan ekologis, sains, dan kesejahteraan warga.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *