Penanaman padi menggunakan metode PS-AAS di hamparan lahan pertanian Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Bondowoso
Bondowoso, Bhirawa
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara mutlak memimpin dan menjadi pionir pengembangan pertanian organik di Kabupaten Bondowoso yang telah dirintis sejak tahun 2013 lalu. Inisiatif strategis yang dikomandoi langsung oleh kampus berjuluk Kampus Putih ini sukses menjadikan Bondowoso sebagai pusat jujukan riset nasional bagi berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun swasta, sekaligus memperkuat program prioritas ketahanan pangan pemerintah pusat.
Kepeloporan tersebut terus berlanjut secara konkret. Salah satunya ditunjukkan melalui aksi penanaman padi menggunakan metode PS-AAS di hamparan lahan pertanian Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Bondowoso” pada Senin (20/7).
Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menegaskan bahwa langkah inovatif Kampus Putih di Bondowoso telah berhasil memantik semangat perguruan tinggi lain untuk ikut serta berkontribusi nyata dalam pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat bawah.
”UMM di Kabupaten Bondowoso juga memelopori minat dari perguruan tinggi-perguruan tinggi lain untuk terlibat langsung di dalam pembangunan masyarakat. Di antaranya adalah Universitas Negeri Jember (UNEJ), Politeknik Negeri Jember (Polije), Universitas Muhammadiyah Jember, dan Universitas Bondowoso untuk bersama-sama membangkitkan gairah berkontribusi langsung bagi kehidupan masyarakat,” tegas Rektor.
Saat ini, UMM secara intensif melakukan pendampingan pada 145 hektar lahan padi organik di Bondowoso. Luasan tersebut mencakup 105 hektar lahan yang telah terkonfirmasi tersertifikasi penuh secara organik, serta 40 hektar lahan perluasan baru.
Dari total lahan binaan tersebut, produktivitas panen mencatatkan angka yang sangat memuaskan. Rata-rata hasil panen mencapai 6,5 hingga 7,8 ton per hektar. Bahkan, pada lahan yang telah menerapkan sistem pertanian organik secara konsisten selama lebih dari empat tahun, hasilnya mampu menembus angka 8 hingga 8,5 ton per hektar.
Capaian produktivitas ini jauh melampaui rata-rata produktivitas padi nasional yang saat ini berada di kisaran 5,2 ton per hektar. Hal ini menjadi bukti sah bahwa inovasi berkelanjutan UMM tidak hanya efektif menjaga kelestarian ekosistem tanah, tetapi juga terbukti melipatgandakan hasil panen dan pendapatan petani lokal.
Langkah UMM ini mendapat apresiasi penuh dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Bupati Bondowoso, R.K.H. Abdul Hamid Wahid, M.Ag., menyampaikan bahwa sinergi penguatan ketahanan pangan bersama UMM mendorong perluasan lahan organik sebagai komoditas produk unggulan daerah.
”Pertanian di Bondowoso terus berkembang dengan mengadopsi pendekatan ramah lingkungan. Saat ini, kegiatan pertanian organik telah mencapai 230 hektare yang tersebar di Desa Sulek, Desa Lombok Kulon, dan Desa Gadingsari,” ungkap Bupati Abdul Hamid.
Terobosan dari Kampus Putih ini juga diakui oleh pemerintah pusat melalui Kemendiktisaintek. Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Prof. Dr. Eng. Yudi Darma, S.Si., M.Si., menilai bahwa ekosistem inovasi yang dipimpin UMM sukses membuktikan bahwa sains mampu diaplikasikan menjadi solusi nyata di lapangan.
”Di sini, sains berubah wujud menjadi pupuk organik, menjadi teknik tanam yang presisi, dan pada akhirnya menjadi peningkatan panen di lumbung-lumbung petani. Sains tidak lagi berjarak, melainkan sudah membumi,” terangnya.
Dampak nyata kepeloporan UMM diakui langsung oleh para petani penggarap. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Al-Barokah, Abdul Basit, mengaku pendampingan pakar UMM mampu mendongkrak hasil panen hingga 2 ton per hektar dibanding saat menggunakan pupuk kimia sintetis.
”Kalau pakai produk pupuk organik UMM, asalkan rutin penyemprotannya itu bisa dapat 7 sampai 8 ton per hektare. Sebelumnya cuma dapat 6 ton waktu masih pakai pupuk kimia,” tutur Abdul Basit.
Keberhasilan UMM memimpin inovasi pertanian organik di Bondowoso makin mempertegas peran strategis perguruan tinggi sebagai problem solver di tengah masyarakat. Melalui kolaborasi pentahelix antara akademisi, pemerintah daerah, dan petani lokal, Kampus Putih membuktikan kapasitasnya sebagai motor penggerak peradaban menuju kemandirian pangan nasional secara berkelanjutan.mut












