Kota Malang, Bhirawa – Memperingati momentum Bulan Bahasa sekaligus menyambut Hari Sumpah Pemuda, Program Studi (Prodi) Bahasa dan Sastra Indonesia Modern (BSI Modern) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar aksi simpatik bertajuk “Patroli Bahasa”, Minggu 25/10. Aksi ini menyoroti maraknya kekeliruan tata bahasa Indonesia pada media luar ruang di kawasan publik Kota Malang.
Menyusuri koridor mulai dari kawasan Jalan Bendungan hingga area Car Free Day (CFD) Jalan Besar Ijen, tim patroli yang terdiri dari dosen dan mahasiswa berhasil menjaring sedikitnya 80 temuan kesalahan penulisan maupun ejaan pada ruang publik.
Ketua Program Studi BSI Modern UMM, Dr. M. Isnaini, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa ruang publik mencerminkan kualitas literasi masyarakat. Oleh sebab itu, ketertiban berbahasa sesuai kaidah baku dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) perlu terus dikawal.
”Melalui Patroli Bahasa ini, kami menemukan masih banyak penggunaan bahasa Indonesia yang keliru pada papan informasi publik, penamaan toko, spanduk, hingga papan reklame. Contoh paling lumrah adalah kerancuan penulisan imbuhan ‘di-‘ dengan kata depan ‘di’, semisal kata ‘dijual’ yang justru ditulis terpisah menjadi ‘di jual’, serta pelbagai kekeliruan ejaan lainnya,” terang Isnaini.
Aksi tersebut tidak sekadar mendata kekeliruan. Tim BSI Modern UMM turun langsung menyapa pemilik usaha dan warga sekitar secara persuasif, sekaligus membagikan lembar edukasi yang memuat catatan koreksi serta panduan perbaikan berbasis standar KBBI.
Penyisiran jalan ini berujung di pusat keramaian CFD Jalan Besar Ijen. Suasana peringatan kian semarak saat para akademisi menggelar orasi kebahasaan, pembacaan ikrar Sumpah Pemuda, serta deklarasi bersama untuk merawat martabat bahasa Indonesia di tengah kepungan istilah asing.
Menariknya, agenda penutupan turut diramaikan oleh mahasiswa mancanegara yang tergabung dalam program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) UMM. Mereka berkolaborasi memainkan alat musik tradisional angklung bersama mahasiswa BSI Modern. Aksi budaya ini dilengkapi dengan sajian musik akustik, teater dramatik, dan pembacaan puisi doa bagi keselamatan bangsa menyikapi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).mut






