MALANG, Bhirawa — Keberadaan hutan mangrove di kawasan pesisir terbukti tidak hanya berfungsi sebagai benteng ekologis, melainkan juga menyimpan potensi ekonomi sirkular yang bernilai tinggi bagi masyarakat. Melalui sentuhan riset dan inovasi, tanaman pesisir ini kini bertransformasi menjadi bahan baku batik organik ramah lingkungan hingga aneka produk olahan pangan.
Secara ekologis, mangrove memegang peranan krusial sebagai penjaga sumber air dan penahan abrasi pesisir. Sistem perakarannya yang rapat dan menjulur kokoh menjadi tempat berlindung sekaligus habitat alami bagi biota laut, mulai dari kepiting, kerang, udang, hingga benih ikan bandeng. Tak hanya itu, dedaunan mangrove aktif menyerap karbon dioksida (CO2) dalam jumlah besar untuk menyuplai udara bersih, sementara guguran daunnya yang terurai beralih fungsi menjadi pupuk organik penyubur tanah.
Melihat potensi tersebut, Yayasan Gajah Sumatra (YAGASU) konsisten menggencarkan pelestarian mangrove di pesisir Sumatra hingga Jawa Timur. YAGASU turut menggandeng masyarakat lokal dalam program pemberdayaan berbasis pemanfaatan limbah mangrove bernilai guna, salah satunya sebagai alternatif pewarna alami untuk industri batik guna menekan pencemaran zat kimia sintetis.
Pemanfaatan kulit kayu dan propagul kering mangrove mampu menghasilkan spektrum warna alami cokelat lembut (soft brown). Karakter warna ini dapat diperkaya dengan kombinasi pigmen alami lainnya, seperti tanaman indigovera untuk menghasilkan gradasi keunguan, serta ekstrak kayu secang atau bayam merah untuk memunculkan rona merah tua yang pekat.
Inovasi tersebut kian diperkuat oleh tim riset pigmen dan batik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Keunggulan khas dari tim UMM terletak pada penggunaan larutan ekstrak rumput laut (hijau, merah, atau cokelat) sebagai bahan perekat alami sebelum serat kain melalui tahap fiksasi (mordanting) dengan tawas, kapur, atau tunjung.
Metode ramah lingkungan ini telah mengantongi empat Hak Cipta, setelah sebelumnya didanai melalui skema Matching Fund periode 2022–2023 serta diterapkan dalam program pengabdian batik organik di Tosari, Pasuruan pada 2024. Puncaknya, daftar paten batik ramah lingkungan turut diperkuat oleh Guru Besar UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P., melalui kolaborasi riset dan pengabdian bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk pewarnaan alami serat kain di Tapanuli, Sumatra Utara pada 2025.
Selain sektor tekstil, bagian buah mangrove yang telah melalui proses reduksi kadar tanin juga berhasil diolah menjadi bahan baku tepung bernilai pangan. Tepung tersebut kini dapat diolah menjadi aneka sajian kuliner seperti brownies basah maupun aneka minuman segar yang aman dan kaya gizi bagi konsumsi masyarakat.mut






