Malang, Bhirawa — Dihadapan Mahasiswa Baru 2027 Dekan Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Sukir Maryanto, memaparkan arah baru keilmuan usai perubahan nama fakultas yang resmi bergulir sejak Mei lalu. Dalam momen penyambutan mahasiswa baru (PK2Maba), Prof. Sukir menegaskan bahwa penekanan STeM di FSTeM UB berfokus pada pengembangan sains dasar (basic science) sekaligus sains terapan (applied science) untuk mempercepat hilirisasi teknologi.
Langkah ini juga diimbangi dengan dorongan kepada seluruh departemen di lingkungan FSTeM UB untuk menghadirkan program studi baru berbasis terapan guna menjawab tantangan industri masa depan.
Baca Juga:Umar Sjaifudin, Alumni Angkatan Ketiga MIPA (FSTeM) UB yang Kini Nakhodai BPS Kota Malang
Prof. Sukir menjelaskan, pemahaman terhadap nama baru FSTeM sangat penting agar mahasiswa tidak keliru mengartikan fokus keilmuan yang diusung. Menurutnya, huruf “e” dalam FSTeM merujuk pada technology dengan penulisan huruf kecil, bukan engineering.
”Perubahan nama ini membawa filosofi pengembangan yang tidak hanya berfokus pada basic science, tetapi juga applied science. Kami mendorong seluruh departemen, seperti Departemen Kimia yang saat ini belum memiliki program studi applied science, agar segera menyusul departemen lainnya demi mempercepat hilirisasi teknologi secara dinamis dan fluid,” ujar Prof. Sukir.
Di tengah tantangan ekonomi nasional yang berdampak pada tren penurunan jumlah mahasiswa di berbagai perguruan tinggi, FSTeM UB mencatatkan angka penerimaan yang relatif stabil. Tahun ini, FSTeM menerima 1.138 mahasiswa baru, hanya selisih tipis dari tahun sebelumnya yang mencapai 1.159 mahasiswa.
Guna membantu mahasiswa yang terdampak kondisi ekonomi, fakultas memberikan fasilitas keringanan biaya berupa pembebasan skema pembayaran hingga sistem cicilan atau angsuran.
Selain penataan kurikulum dan keilmuan, FSTeM UB terus memperkuat layanan pendukung mahasiswa melalui Unit Layanan Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual (ULKPKKS), sosialisasi kesehatan mental, serta penyediaan fasilitas bagi sekitar 10 mahasiswa disabilitas. Kegiatan PK2Maba sendiri dirancang transparan dan edukatif tanpa mengarah pada tindakan kekerasan yang berpotensi menimbulkan trauma fisik maupun mental.mut






